Sosial

SANG RAJA MAINKAN KARTU

gambar raja pegang kartu

Oleh : Dr. Chazali H. Situmorang (Sang Bayu – Batak Melayu)

Para Panglima Talam yang menyadari kekonyolan mereka dengan tidak mengisi kertas untuk menunjuk siapa yang mewakili mereka menghadap Raja, membuktikan bahwa mereka berada dalam pikiran yang sama.

Baca: http://www.jurnalsocialsecurity.com/news/raja-terkena-amnesia-panglima-talam-panik.html

Tidak ada satupun yang berani mengambil resiko di hardik Raja, jika menyampaikan bahwa Raja sedang mengalami amnesia. Sebab penyakit amnesia Raja tidak permanen. Seperti orang kena  ayan atau sawan. Hanya beberapa menit saja dapat kambuh ayannya, tetapi hilang dengan sendirinya tanpa berbekas sama sekali.

Akhirnya para panglima talam , yaitu PT Alang Tungkai, PT Aleng, PT Ogek, PT Buyung dan PT Soleh, sepakat untuk bersama-sama saja menghadap Raja Kerajaan Asbunesia, menjelaskan apa hasil kajian mereka tentang orasi kampanye yang disampaikan Raja kemarin.

Kekhawatiran para panglima talam, disampaikan pada Raja dengan juru bicara PT Alang Tungkai, tentang data-data pencapaian dan keberhasilan pembangunan yang berbeda pada dua titik kampanye terbuka yang disampaikan sang Raja.

Raja terdiam sejenak, dengan wajah sedikit mengkerut dan terlihat tegang. Para panglima talam saling melirik, dan sudah pasrah akan mendapatkan sumpah serapah dari Raja.

Tiba-tiba Raja tertawa terbahak-bahak seperti para panglima talam tertawa sebelum berangkat ke Istana Raja. Karena Raja tertawa para panglima talam juga tertawa tetapi agak tertahan, takut juga karena belum mengerti betul kemana arah tertawanya Raja.

“Begini” Raja membuka pembicaraan. “ kenapa saya menyampaikan data yang berbeda,  aku  mau tahu, apakah rakyat menyimak dan mengerti dengan angka-angka dan data yang kusampaikan. Ternyata mereka tidak mengerti”. Raja menarik napas sambil merenung keras. Dia sedang memutar otak yang  sering digunakan jika Raja sedang   bermain kartu dengan para pengawalnya. Raja melanjutkan cakapnya, “ aku paham kalian datang kemari, untuk menyampaikan kepada ku, apakah aku mengalami lupa ingatan”. “Begitu kan Alang?”. “Benar Tuanku Paduka Yang Mulia”. Ujar Alang sambil membungkuk dan sedikit gemetaran.

“aku tidak sedang lupa ingatan. Aku sedang berpikir untuk memberikan mainan baru kepada rakyatku, supaya mereka tetap percaya dan kembali memilihku sebagai Raja”.  “Apa mainan yang akan kusampaikan, tidak sekarang. Besok dalam Rapat Kabinet Raja terbatas, akan kusampaikan”. “Panglima Alang, tolong sampaikan kepada Perdana Menteri Lebai Bandar Panjilat, untuk menyiapkan rapat besok”. “Baik Tuangku” Sahut  Panglima Talam Alang.  Tidak berapa lama pertemuan bubar, dan para panglima talam kembali ketempat tugasnya masing-masing.

Besok pagi, di ruang rapat Istana sudah rapi. Dengan bau harum ruang yang semerbak dengan hiasan bunga anggrek beraneka warna,  menambah suasana yang asri dan berwibawa. Sang Perdana Menteri Lebai, memang sangat luar biasa membangun suasana untuk Raja tetap senang, gembira, dan menyenangkan. Sehingga raja sangat senang dengan PM Lebai. Urusan-urusan kecil Raja pun tidak luput dari sang PM Lebai untuk diselesaikan. Termasuk mengajari sang anak Raja yang masih milenial untuk ikut bisnis yang menguntungkan dan tidak terlalu mencolok di mata rakyat.

Rapat dimulai tepat pukul 10.00 pagi, dihadiri PM lebai, PT Alang tungkai, Soleh, Aleng, Ogek dan Buyung.  Menteri Keuangan Sri Mersing, Menteri Kesejahteraan OK.Miskin, Menteri BUMK Rina Melayu, Menteri Kesehatan Ogap Buluh, dan Menteri Pendidikan Tengku Alam Nyata.

Dalam Rapat Kabinet Raja terbatas tersebut,  membahas “mainan” baru yang akan diluncurkan sang Raja, yaitu meluncurkan sebanyak 3 jenis kartu untuk rakyat miskin, sebagai gula-gula untuk menarik simpati rakyat dalam  masa kampanye yang sedang berlangsung saat ini.

Raja ingin menerbitkan dan meluncurkan Kartu Mahasiswa Pintar (KMP), Kartu Belanja Murah (KBM), dan Kartu Menunggu Kerja (KMK). Ketiga Kartu tersebut contohnya sudah harus dicetak dalam 2 hari, dengan bentuk menarik, lux, dengan warna mencolok.

Raja menjelaskan “ kartu-kartu tersebut kita tunjukkan  pada rakyat. Kita  jelaskan  bahwa Raja akan menjamin rakyat pemegang kartu-kartu tersebut, jika anaknya masuk Perguruan Tinggi akan mendapat beasiswa sejumlah tertentu. Untuk keluarganya, akan mendapatkan bahan makanan dengan biaya murah, dan jika anaknya sudah tamat SMK/PT, sebelum mendapat pekerjaan, dapat bantuan sejumlah uang sebagai uang tunggu untuk biaya hidup, sebelum mendapatkan pekerjaan”.

Setelah Raja selesai bicara, langsung Menkeu bertanya kepada Raja “ Tuanku Baginda, dana Kerajaan kita saat ini sedang minus, utang sudah banyak dan sudah pada jatuh tempo. Asset yang kita jaminkan juga sudah tidak ada lagi. Mohon titah tuangku, dari mana kita dapatkan dana untuk kartu-kartu tersebut.”.

Setelah berfikir sejenak, Raja menjawab “ Bu Menkeu, tidak perlu khawatir. Bansos tersebut tidak harus diberikan tahun anggaran sekarang ini. Kita umbar janji dulu. Rakyat pasti percaya, apalagi kartunya menarik. Dan watak rakyat kita senang ngumpulin banyak kartu”. “ Kita janjikan dananya akan tersedia tahun anggaran berikutnya, asalkan saya yang dipilih rakyat. Jika bukan saya yang rakyat pilih, tentu tidak dapat bantuan sosial tersebut”.

“Oh ya, dari mana duitnya?. Utang kita banyak, tapi kekayaan alam kita masih cukup banyak. Kita sewakan  saja dua atau tiga   pulau yang ada ribuan. Sudah banyak negara asing yang ingin menyewakan. Saya pikir sudah cukuplah menutupi biaya bansos”. “gampang toh?” dengan mimik tanpa ekspresi, dan tanpa beban. Sang Menkeu tersenyum kecut, sambil membungkuk, “ siap laksanakan Tuanku Baginda Raja yang dimuliakan Allah”.

Pembicaraan dilanjutkan oleh Perdana Menteri Lebai, dengan memberikan tambahan penjelasan. “ Tuanku Raja, atas arahan Tuanku beberapa waktu yang lalu, saya sudah membangun komunikasi  dengan negara Chanio, bahwa kerajaan  Chanio  sudah siap menggelontorkan dana berapapun  yang dibutuhkan kerajaan Asbunesia.  Ada tawaran menarik dari kerajaan  Chanio  yang ingin investasi ke BUMK  yang mengelola pelabuhan udara komersial, dan pelabuhan laut komersial. Uang investasi tersebut, dapat digunakan sebagian untuk menyenangkan rakyat, agar rakyat tidak meributkan masuknya investasi Chanio tersebut”.

Lantas Raja merespons cepat, umpan yang disampaikan Perdana Menteri Lebai yang ternyata sangat “cerdas” tersebut. “ oh iya, saya lupo, Pak Lebai sudah lapor saya tentang hal tersebut. Tolong bu Menkeu untuk menindaklanjuti bantuan investasi dari kerajaan  Chanio tersebut”. Menkeu terkaget-kaget, walaupun tidak ditunjukkan secara terbuka, atas laporan Pak lebai. Sebab informasi tersebut tidak pernah disampaikan kepada Menkeu selama ini. Padahal baru saja ada Rapat Koordinasi para Menteri seminggu yang lalu.

Memang Raja Asbunesia yang satu ini, tidak mau mikir-mikir berat.  Mana yang cepat jadi duit dimanfaatkan. Urusan dampak utang tersebut, tidak  perlu dipikirkan sekarang. Biarlah waktu saja yang menyelesaikannya. Nalarnya tidak cukup cerdas untuk mikir yang berat-berat.

Sebenarnya si Raja sekarang ini, adalah yang tingkat ke cerdasnya biasa-biasa saja . Tetapi memang gayanya, terkesan merakyat, apa adanya. Bicaranya sederhana dengan narasi terbatas, dan pilihan kata-kata yang banyak bahasa prokemnya yang disenangi rakyat kebanyakan.

Keunggulan Raja satu ini, adalah hobinya membangun pencitraan. Jika ada bencana, dengan mejeng di depan kamera di foto wartawan sedang berada di puing-puing bencana. Masuk ke gorong-gorong, dan got jalan sambil di foto wartawan. Tiba-tiba naik KRL berbaur dengan penumpang, selfie rame-same. Pokoknya keren deh.  Selama  4 tahun berkuasa dengan gaya tersebut, rakyat bosan juga. Karena kondisi ekonomi tidak semakin membaik. Lapangan kerja semakin sulit. BBM dan listrik terus naik, diam-diam.

Karena akan adanya PilRa, maka Raja merubah strategi menarik simpati  rakyatnya dengan menggelontorkan bantuan sosial, dengan membagi kartu-kartu paket bansos. Dikumpulkan rakyat,dibagikan kartu, dan sang panglima talam dan para Menteri menyebutkan bahwa bansos  tersebut, karena kebijakan Raja. Rakyat sudah tidak peduli,  yang penting bantuan terima, soal memilih Raja tersebut, ngak janji ya. Begitulah bisik-bisik dikalangan rakyat yang menunggu giliran dapat bantuan.

Cerita ini hanya fiksi saja.  Nama-nama tersebut hanya imajinasi saja.

Cibubur, 3 April 2019

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top