Pendidikan

Ulama Tempat Bertanya, Dimanakah?

nur-saadah-khudri

Memperingati Hari Santri Nasional  22 Oktober 2016

Oleh: Nur Saadah Khudri*

Ulama-ulama besar yang patut menjadi suri tauladan, kata-katanya menjadi pedoman bagi orang banyak kian langka. Pesantren  yang  secara ikhlas mendalami  kita-kitab kuning, ilmu alat, akhlak dan tasauf kehilangan jati dirinya.

Cita-cita awal dari berdirinya pesantren di Indonesia, dahulu  dengan metode kesantriannya yang secara ikhlas mempelajari dan mendalami ilmu agama kitab-kitab kuning, ilmu alat, akhlak, tasawuf berhasil melahirkan ulama -ulama besar yang patut menjadi suri tauladan, bisa kita sebut seperti Buya Hamka lulusan pesantren Madrasah Sumatera Thawalib Bukittinggi.

Dengan  kedalaman ilmu agamanya telah dapat berfatwa dengan baik, kata-katanya menjadi pedoman bagi orang banyak. Seiring dengan makna ulama itu yakni orang yang ‘alim. Artinya orang yang mengetahui banyak hal berasal dari kata ‘allama yu’allimu ‘alim. Mengetahui disini tidak hanya sekedar mengetahui, juga faham dan tercermin dalam dirinya.

Ulama adalah pewaris nabi artinya dapat menjadi suri tauladan bagi orang banyak. Nilai-nilai ini lah yang menjadi penopang dari sistem kepesantrenan. Seiring perjalannya waktu, dengan masuknya cara berfikir  barat, nilai-nilai yang ada  mulai memudar..pesantren sekarang seperti kehilangan jati dirinya.

Tuntutan zaman yang semakin pongah tidak mampu di jawab dengan bijak oleh pesantren sehingga terjadi pergeseran nilai. Pesantren bukan lagi sebagai pencetak ulama yang di maknai sebagai warasatul ambiak tetapi  hanya tempat pelarian, pelarian dari keresahan sosial, sehingga tujuan lulusan pesantren mulai berubah, orang memasukkan anak ke pesantren karena takut anaknya terlibat kenakalan remaja.

Hal lain yang menjadi faktor kenapa pesantren sekarang tidak lagi mencetak ulama karena pesantren gagap menjawab tantangan global dimana manusia hebat itu adalah manusia yang mampu menguasai teknologi, yang hebat ilmu biology, yang dapat menghasilkan uang banyak, kerja di perusahaan besar, berdasi.

Sehingga dengan kegagapannya pesantren tidak mampu mempertahankan jati dirinya, seperti sekarang tidak banyak alumni pesantren yang faham akan ilmu agama, tidak banyak  yang prilakunya seperti ulama. Yang banyak sekarang adalah orang yang menjual simbol agama agar diakui dirinya sebagai ulama, tampil di tv memberikan tausiah tapi tidak mampu menyisihkan sedikit hartanya untuk tetanggan yang kesusahan.

Lalu jalan keluar yang bisa ditawarkan agar banyak sedikitnya pesantren bisa berfungsi sesuai awal pendiriannya? Salah satunya pesantren harus kembali ke khittahnya dengan membangun kemandirian pemikiran, metode, dan financial. Dulu pesantren didirikan tidak dalam bentuk yayasan, contohnya Parabek Bukittinggi. Yayasan yang berdiri pada tahun 1963 jauh setelah pesantren ada..setelah itu apa yang terjadi  memprihatinkan perebutan kepentingan sehingga lupa terhadap jati diri.pesantren itu adalah tempat pelajar umat

Ini sedikit beda dengan  seperti di Wonogiri, pesantrennya besar, Gontor juga besar ada yayasan disana. Bagus tidaknya keberadaan  yayasan pada  pesantren tergantung orang di dalamnya karena  setiap yayasan mempunyai undang-undang atau aturan mainnya sendiri. Tergantung proses pendiriannya, apakah  waqaf atau pribadi atau kelompok. Persoalan apakah pesantren menghasilkan ulama, ini tentu masalah cara pandang dan nilai atau yang disebut dengan worldview orang Islam yang berubah. Membangun kembali kemandirian baik secara pemikiran, metodhe dan financial.

Pesantren harus merdeka, itulah yang di ajarkan orang terdahulu. Orang merdeka diharapkan  akan sanggup mempertahankan yang haq. Kemandirian yang di bangun berdasarkan nilai-nilai bukan simbol-simbol keislaman. Orang yang merdeka tidak tergantung apapun Sehingga mampu menentukan apa yang harus di lakukan dan apa yang harus di perjuangkan. Dengan demikian akan terbentuk pribadi yang kuat, begitulah ulama dulu..dan itulah harapan kita  kepada santri sekarang.

Membikin  pesantren  baru belum tentu menghasilkan yang terbaik dan membenahi yang ada bukanlah perbuatan  sia-sia. Semua itu tergantung keseriusan untuk melakukan perbaikan, islah kata Imam al Ghazali dan kebijaksanaan istilah Minangkabau,  patut kita renungkan. Melangkah lah berdasarkan timbangan patuik jo mungkin…kalau yang lama tidak bisa di perbaiki lagi, baru bikin yang baru..tapi itu semua  sekali lagi  tergantung  apakah sudah didaya-upayakan semaksimal mungkin?

India

Satu yang bisa di contoh pendidikan Islam di India  adalah pesantren Dauban. Disitu ditanamkan nilai-nilai Islam yang dapat di lihat dari kepribadian para santri. Bagaimana prilaku para santri mereka sangat terjaga…

Demikian universitas Islam seperti Jamia Islamia  Aligarh Muslim University, Hyderabad University  tidak di fokuskan untuk melahirkan ulama berbeda dengan Al Azhar Mesir. Disana universitas Islam bertujuan untuk mencerdaskan umat Islam, memberi fasilitas pendidikan bagi umat Islam . Diskriminasi terhadap umat Islam  di India itu sangat kuat.

Berbeda motif Syekh Ahmad Khan mendirikan Aligarh dengan Syekh Ibrahim Musa mendirikan Thawalib. Pergeseran nilai dan reduksi makna ulama itu banyak hal bisa mempengaruhinya ; pertama, simplisiti terhadap makna ulama sehingga tidak sampai pada makna yang sesungguhnya kemudian pengaruh hermeneutik yang masuk dalam dunia Islam

Dari sekian banyak pesantren pilihlah pesantren yang masih mempertahankan bidang studi ilmu alat, tasawuf, mantiq. Ilmu alat sebagai pisau, mantiq sebagai batu asahan dan tasawuf sebagai pembatas. Karena itu ilmu agama yang di pelajari ulama terdahulu . Yang membuat seirama kata dan perbuatan karena orang itu faham nilai tasawuf, bukan tarekat. [ ]

*Nur Saadah Khudri  lahir di  Bukittinggi, 24 April 1990. S1 Filsafat UI (2008-2012),  S2 Political Science Aligarh Muslim University India (2013-2015). Pernah menjadi Sekretaris HMI Komisariat  Fakultas Ilmu Budaya  ( 2010-2011). Anggota Pusat Kajian dan Gerakan BEM UI  ( 2009),  Anggota Depok Islamic Study Cicle UI (2010-2011) Penasehat Persatuan Pelajar Indonesia  India Komisariat Aligarh. Mengikuti pelbagai Seminar International di Korea  ( 2012) Kini Dosen di Universitas Ekasakti Padang

Editor Ahmad Gazali

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top