Opini

Siapa Pemenang Pilgub DKI Jakarta 2017?

Pilgub DKI Jakarta 2017

Oleh: WAHYU TRIONO KS

Kalau ada yang bertanya, siapa pemenang Pilgub DKI Jakarta 2017? Jawabannya adalah pasangan Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat (Baca: pada putaran I Pilgub DKI Jakarta 2017). Dengan kekuatan sumber daya dan sumber dana yang dimiliki oleh pasangan Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat dan ditinjau dari model kampanye modern yang tidak hanya memfokuskan pada gerak-gerik politik tetapi pada gerakan politik tampaknya pasangan Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat akan kembali memenangi Pilgub DKI Jakarta putaran kedua pada April 2017.

Alasan ini sangat masuk akal, lantaran pemilih di DKI Jakarta tidak sekedar memilih atas preferensinya kepada figur ansih, preferensi para pemilih di DKI Jakarta juga lebih dominan dipengaruhi oleh latar belakang dukungan atau partai politik pengusung. Partai-partai yang tidak hanya sekadar memiliki pengalaman dan jam terbang yang teruji dan mumpuni, tetapi juga sebagai partai yang saat ini menjadi penopang dan pendukung kekuasaan. Tak dapat dipungkiri realitas ini memberi pengaruh besar pada preferensi dan pilihan para pemilih pada pasangan Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat.

Tetapi pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno tentu saja bukan pasangan yang dianggap ringan. Dukungan dua partai politik PKS dan Partai Gerindra yang solid dan profesional, kecenderungan partai pengusung dan pendukung pasangan Agus Harimurti Yudhoyono – Sylviana Murni yang tampaknya dominan untuk mengalihkan dukungan pada pasangan ini, serta dukungan kelompok menengah profesional dan para konsultan yang berpengalaman, teruji dan mumpuni dianggap mampu meraih simpati dari para pemilih untuk mengantarkan pasangan  Anies Baswedan – Sandiaga Uno memenangi Pilgub DKI Jakarta 2017.

Faktor-faktor apa saja yang menentukan dan kemana arah angin perubahan yang akan menentukan kemenagan dua pasangan kandidat Pilgub DKI Jakarta putaran kedua pada April 2017 menjadi menarik untuk kita kemukakan.

Wangsit Kekuasaan

Faktor yang sering menjadi penentu takdir kekuasaan seseorang untuk menjadi pemenang atau pecundang untuk mendapatkan kekuasaan atau kekalahan adalah apa yang kita sebut dengan wangsit kekuasaan.

Wangsit yang pertama adalah “wang disit” (uang disit) atau uang duluan. Demokrasi modern dengan pemilihan langsung mewajibkan seorang yang akan menapaki jalan kemenangan (road to victory) dalam meraih kekuasaan dan kepemimpinan politik pemerintahan harus memiliki sumber dana yang memadai. Hanya kandidat yang memiliki uang dan sumber dana yang akan mendapatkan wangsit kekuasaan (mendapatkan amanat kekuasaan).

Sesuatu yang indah rasanya untuk kita perdengarkan, bahwa fungsi uang diharapkan bukan untuk melakukan politik uang (money politic), dan uang bukan untuk membeli suara (money buy voters) tetapi uang berfungsi menggerakkan mesin politik dan kampanye modern. Uang bukan berfungsi untuk menjejal mulut dan perut, tetapi uang berfungsi untuk menggerakkan mesin kampanye modern dengan spirit pendidikan bagai para pemilih (voters education).

Wangsit kedua adalah berkaitan dengan mandat kekuasan dan kepemimpinan dari Tuhan, Allah Yang Maha Esa. Setiap manusia yang beriman mesti percaya bahwa kekuasaan Tuhan yang akan memberikan mandat dan amanat kepada siapa suatu kekuasaan dan kepemimpinan itu diberikan.

Al-Qur’an, Surat Ali Imran, Ayat: 26 telah mengigatkan akan hal itu, “Katakanlah (Muhammad), Wahai Tuhan pemilik kekuasaan. Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau maha kuasa atas segala sesuatu.”

Angin Perubahan

Lantas, pasangan mana yang akan memenangi Pilgub DKI Jakarta pada April 2017? Bila arah angin perubahan menuju pada pendulum kekuasaan. Artinya, bila mayoritas para pemilih kekeh dan memegang  tuguh pada pentingnya kesinambungan kekuasaan atau sederhananya, perubahan yang ditawarkan oleh pasangan inchumbent selama ini dianggap rasional, masuk akal dan memberi dampak pada harapan mayoritas para pemilih di DKI Jakarta, tentu saja pasangan  Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat dapat dipastikan akan memenangi Pilgub DKI Jakarta pada April 2017.

Selain itu, faktor realitas bahwa kekuasaan pemerintahan pusat tampaknya juga lebih nyaman bila pasangan  Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat yang akan memenangi Pilgub DKI Jakarta 2017 dapat kita lihat dari gerak-gerik dan gerakan politik aktor dan elite di kekuasaan pemerintahan pusat saat ini.

Hal ini wajar saja, asal gerak-gerik dan gerakan politik itu tidak melanggar tata aturan perundang-undangan, konstitusi negara dan menimbulkan penyalahgunaan kekuasaan (abause of power) dan menimbulkan turbulensi politik.

Relasi yang harmonis dan selaras antara kekuasaan pemerintah pusat dan kekuasaan pemerintahan di DKI Jakarta memang menjadi prasyarat terpenting untuk melancarkan kerja dan kinerja pembangunan di DKI Jakarta, yang diharapkan tentu saja pembangunan itu memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat DKI Jakarta, masyarakat seluruh Indonesia dan masyarakat dunia, lantaran Jakarta adalah ibu kota negara.

Tetapi angin perubahan lain tak kalah juga kencangnya, angin perubahan yang mengharapkan perubahan di DKI Jakarta hanya akan terjadi bila terjadi perubahan dengan wajah kekuasaan yang saat ini di pegang oleh pasangan inchumbent berubah menjadi wajah baru dengan harapan baru.

Kencangnya hembusan angin perubahan yang berarti merubah wajah kekuasaan di DKI Jakarta akan mengukuhkan para pemilih di DKI Jakarta memiliki pereferensi yang kuat bahwa pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno akan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta menggantikan pasangan inchumbent.

Tetapi angin perubahan semacam ini sifatnya natural dan alamiah, ia justru akan menjadi badai bila angin perubahan itu dikondisikan atau terjadi karena angin buatan hasil rekayasa. Inti dari analisis ini lebih pada soal bagaimana pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno dan seluruh tim pendukungnya menangkap angin merubahan di masyarakat, dan memberikan jalan bagi keinginan atas perubahan itu.

Para pemilih di DKI Jakarta dan kita semua sebenarnya sedang disuguhi dengan dua hal yang serba kontras, berbeda, jelas hitam putihnya tidak abu-abu. Dua pasangan kandidat yang head to head, bertarung dalam kapasitas, karakter, track record dan meskipun memiliki visi yang sama ingin memperbaiki DKI Jakarta tetapi dengan cara dan startegi yang jauh berbeda. Situasi ini sesungguhnya memudahkan para pemilih untuk menjatuhkan pilihannya apakah pada pasangan  Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat atau pada pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno.

Pada catatan saya di atas kertas, dilihat dari sumber daya dan sumber dana, model pilihan kampanye serta preferensi para pemilih yang tidak ansih memilih karena figur kandidat, maka dapat dipastikan bahwa pasangan Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat akan memenangi Pilgub DKI Jakarta pada April 2017. Tetapi, tentu saja politik tidak bekerja di atas kertas, jangan lupa bahwa faktor wangsit kekuasaan dan angin perubahan menjadi faktor lain yang akan menentukan kemenangan pasangan  Anies Baswedan – Sandiaga Uno.

Penutup

Tampaknya, politik angin perubahan, menjadi pilihan paling tepat bagi dua pasangan ini dan kecanggihan menangkap angin perubahan menjadi sangat menentukan sebagai kunci kemenangan. Tetapi percayalah, bahwa jangan bermain-main dengan angin, suatu pameo yang acap kita perdengarkan, “siapa menabur angin dia akan menuai badai”.

Setelah badai yang besar, angin kencang selalu diikuti dengan hujan berkepanjangan disertai petir dan kilat yang menyambar. Air yang melimpah ruah dan banjir bandang, menimbulkan kekuatan yang maha dahsyat, ia akan mengalir sesuai sunatullahnya, ia membongkar, menjebol, menerjang apa saja. Air itu ibarat rakyat dan para pemilih itu sendiri, bisa jernih, tenang dan menyegarkan tetapi jangan menghalangi air yang mengalir dari sunatullahnya, karena kekuatannya sungguh maha dahsyat yang tak pernah dapat kita duga dan kita perkirakan sebelumnya.

Kita semua rakyat Indonesia tentu saja selalu berharap bahwa pertarungan dua pasangan Pilgub DKI Jakarta putaran kedua April 2017, akan menghasilkan kemenangan bagi seluruh rakyat Indonesia. Selebihnya kita mengharapkan demokrasi modern di Indonesia yang makin maju ini selalu menghasilkan kandidat-kandidat yang “Menang Terhormat” dan “Kalah Bermartabat.”

“Menang Terhormat” adalah suatu kemenangan yang memberikan manfaat dan kemaslahatan bagi seluruh rakyat khusunya masyarakat di DKI Jakarta, dan “Kalah Bermartabat” adalah suatu kekalahan yang diterima dengan wajah masih tegak berdiri tanpa kehilangan muka, lantaran pemilihan dilakukan dengan adil, jujur dan demokratis tanpa mencederai demokrasi itu sendiri, terutama mencederai kedaulatan rakyat karena kecurangan dan penghianatan kehendak rakyat. Semoga!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top