Opini

POLITIK PANJAT PINANG

WTKSK

Oleh: WAHYU TRIONO KS

Beberapa hari kedepan bangsa Indonesia akan memperingati Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia Ke-72 (17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2017). Hari Kemerdekaan kali ini menjadi lebih istimewa bagi seluruh warga bangsa Indonesia. Mengapa?

Pertama, pada bulan Agustus tahun ini bangsa Indonesia tengah menjalankan tahapan-tahapan pemilihan Umum Kepala Daerah secara serentak yang akan dilangsungkan pada Juni 2018. Partai Politik ditingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota tengah membuka pendaftaran bagi para kandidat yang akan maju menjadi Gubernur, Bupati dan Walikota.

Kedua, seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan hari kemerdekaan selalu dimeriahkan dengan berbagai perlombaan, permainan dan berbagai panggung hiburan. Hal yang paling istimewa tentu saja di berbagai sudut-sudut kampung, pelosok desa dan perkotaan selalu meriah dengan perlombaan panjat pinang. Perlombaan yang penuh dengan kontroversi dan menjadi warisan penjajah Belanda selain warisan yang masih digandrungi oleh banyak kalangan yaitu politik adu domba Belanda yang dikenal dengan devide et impera.

Kali ini kita ingin memperbincangkan Politik Panjat Pinang ditengah bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia Ke-72 dan dikaitkan dengan tahapan Pemilihan Umum Kepala Daerah.

Belajar dari Panjat Pinang

Nilai positif dan pelajaran apa yang dapat kita ambil dari perlombaan panjat pinang? Pertama, dibutuhkan suatu tim yang kompak, bekerja berkelompok dan bergotong royong, kerja keras, pantang menyerah untuk mencapai puncak pohon pinang dan mengambil hadiah. Begitu juga di dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah, untuk mecapai kemenangan membutuhkan prasyarat semacam ini juga.

Kedua, tidak bisa semua orang di dalam tim secara bersamaan ingin mencapai puncak. Hanya satu orang yang akan mencapai puncak, Diusung dan didukung oleh beberapa orang tim yang berada dibawahnya. Selain itu, ada para pendukung (suporter) yang menyemangati agar tim meraih kemenangan, sampai ke puncak dan mendapatkan hadiah. Begitu juga dengan Pemilihan Umum Kepala Daerah, dibutuhkan hanya satu pasangan yang akan mencapai puncak kekuasaan yang diusung oleh partai politik, didukung oleh para pendukung atau tim dan para pemilih untuk meraih kemenangan (kekuasaan) sebagai kepala daerah.

Ketiga, ketika seseorang yang diusung oleh tim dan didukung oleh para pendukung (suporter) mencapai puncak dan mengambil hadiah, boleh saja menikmati minuman sekedarnya, pelepas dahaga bila ada minuman sebagai hadiahnya. Tetapi ia harus mengambil semua hadiah itu untuk semua tim dan pendukungnya. Sementara, kelompok, tim dan pendukung (suporter) yang lainnya merasa riang gembira dan mendapatkan kebahagiaan dari tontonan yang disuguhkan.

Begitu juga dengan Pemilihan Umum Kepala Daerah, hendaknya bila seseorang yang telah didukung oleh partai, tim pemenangan dan para pemilihnya, tidak boleh menikmati kemenangan itu hanya untuk dirinya sendiri dan kelompoknya, akan tetapi didayagunakan untuk membuat semua bahagia dan riang gembira dengan memberikan kesejahteraan dan kemakmuran yang dinikmati oleh semuanya.

Secara esensial, makna penting dari politik panjat pinang yang selalu diperlombakan dalam peringatan hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini menjadi hal yang secara terus-menerus kita tanamkan kepada masyarakat agar Politik Panjat Pinang tidak berkonotasi negatif dengan munculnya tokoh-tokoh politik untuk meraih kekuasaan dengan menginjak-injak yang dibawahnya atau mengorbankan rakyat untuk kepentingan kemenangan dan kekuasaan.

Penutup

Kita boleh saja melihat dan memandang   berbeda, memiliki cara, gagasan, pendapat, latar belakang dan pilihan yang berbeda, akan tetapi, kita berdiri pada tanah yang sama, pada air dan udara yang kita minum dan hirup bersama.

Pekik kemerdekaan membahana ke seantero dunia, ketika Soekarno – Hatta memproklamasikan kemerdekaan negara Republik Indonesia, tetapi pekik kemenangan karena pilihan kita pada Pemilihan Umum Kepala Daerah tentu saja bukan karena gambar Soekarno – Hatta pada lembaran rupiah yang diberikan kepada kita, tetapi karena pilihan kita adalah pilihan yang mengutammakan kepentingan bangsa dan negara, bukan kepentingan pribadi, kelompok dan golongan tertentu saja.

Satu pegangan yang tetap kita  yakini menyatukan kita sepanjang masa adalah karena tujuan dan cita-cita kita yang sama, agar bangsa dan negara Indonesia tetap mandiri, maju dan jaya. Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera. Pilihan kita pada Indonesia yang merdeka, merdeka untuk selamanya. Dirgahayu 72 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia! (Tulisan Ini Merupakan Adaptasi dari Tulisan Saya yang Berjudul: Pilihan Merdeka).

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top