Opini

Bola Liar Politik, Pilkada Sumatera Utara

IMG20180112192342

Oleh. WAHYU TRIONO KS
Magister Ilmu Adminstrasi Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional dan Founder CIA.

Djarot Saiful Hidayat (DSH) dicalonkan oleh PDI Perjuangan sebagai Kandidat Gubernur Sumatera Utara dinilai dari sisi manajemen kampanye melampaui suatu strategi meningkatkan popularitas bagi seorang kandidat.

Karena menyedot perhatian publik di Sumatera Utara, lantaran dianggap tidak lazim. Apalagi upaya penolakan yang dilakukan oleh DPW PPP dan DPC PPP se Sumatera Utara menjadikan nama Djarot Saiful Hidayat (DSH) semakin menjadi perbincangan publik.

Bola liar politik Pilkada Sumatera Utara ini saya upayakan dapat menjadi teman anda santai di LAPO atau menjadi Laporan Analisis Politik Orisinil (LAPO) untuk anda.

Desentralisasi Politik

Dari perspektif desentralisasi dan otonomi daerah apa istimewanya pencalonan Djarot Saiful Hidayat (DSH) sebagai kandidat Gubernur Sumateta Utara?

Pertama, pasca diberlakukannya UU No. 32 Tahun 2004 yang di dalamnya di atur tentang Pilkada dan tahun 2005 untuk pertama kali Pilkada langsung di Indonesia di laksanakan di Jambi menandai tarikan desentralisasi ke arah desentralisasi politik dan tahun-tahun berikutnya berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ahli dan akademisi ditemukan tentang menguatnya politik identitas dimana kandidat kepala daerah harus putra daerah dan kini sudah terbantahkan dengan sendirinya (pengecualian Pilkada di DKI Jakarta karena ibu kota negara) setelah Djatot Saiful Hidayat menjadi kandidat Gubernur di Sumatera Utara.

Kedua, bangunan struktur hubungan pemerintah pusat dan daerah dalam perspektif desentralisasi dan otonomi daerah dengan pencalonan ini dapat dipandang adanya fenomena elite capture lantaran menguatnya peran-peran aktor dan elite bila dibandingkan dengan pemerintah daerah yang direpresentasikan oleh guburnur dan elite pemerintahan daerah lainnya serta masyarkat yang dalam konsep desentralisasi dan otonomi daerah dimaksudkan dengan pendelegasian wewenang kepada daerah adalah pemerintah daerah dan masyarakat.

Ketiga, fenomena ini secara tegas mengkonfirmasi kepada publik bahwa konsep pemerintahan daerah di Indonesia semakin menjauh dari cita-cita federalisme, bila masih ada yang bercita-cita untuk itu dan Indonesia meneguhkan konsep pemerintahan daerah dengan konsep desentralisasi dengan otonomi luas, otonomi khusus dan otonomi terbatas dalam kerangka negara kesatua.

Elektabilitas Kandidat

Bagaimana soal popularitas dan elektabilitas Djarot Saiful Hidayat (DSH) berpasangan dengan Sihar Pangihutan Hamonangan Sitorus Pane?

Mengikuti alur berpikir politik Ibu Megawati Sukarnoputri ketika mencalonkan Djarot Saiful Hidayat menjadi kandidat Gubernur Sumatera Utara dengan harapan berlangsung politik aliran dimana pemilih suku Jawa yang mencapai 34% bila 24% memilih Djarot Saiful Hidayat dan 11% pemilih non muslim terutama HKBP memilih Sihar Pangihutan Hamonangan Sitorus Pane maka pasangan ini telah memiliki tingkat elektabilitas sebesar 35% dengan popularitas tentu saja harus di atas 85%.

Pertanyaannya kemudian, apakah politik aliran berdasarkan suku dan agama ini bisa berjalan secara linier dengan membangun semangat sedulur tuo, atau saudara tua dan sedulur tunggal sekapal atau saudara sekampung Dongan Sahuta Hami (DSH), saudara kami sekampung yang memiliki rasa senasib dan sepenanggungan.

Atau apakah berlaku politik aliran dengan pendekatan struktural kekuasaan untuk kantong-kantong masa pemilih suku Jawa di pusat-pusat perkebunan dan perusahaan lainnya dan aliran agama dalam pendekatan hirarki dan struktural.

Tingkat elektabilitas pasangan Djarot Saiful Hidayat – Sihar Pangihutan Hamonangan Sitorus Pane ini tentu jauh bila dibandingkan dengan tingkat elektabilitas pasangan Edy Rahmayadi dan Musa Rajek Shah sebesar 60% dengan asumsi seluruh pemilih partai pengusung memiliki loyalitas dan popularitas pasangan ini mencapai 95%.

Apakah pertarungan perebutan kursi Gubernur Sumatera Utara ini akan menjadi seperti suatu peperangan antara Amerika melawan Vietnam dengan kekalahan Amerika di berbagai medan pertempuran karena tidak menguasai medan pertempuran tetapi Amerika berupaya melakukan politik diplomasi dan propaganda bahwa merekalah yang memenangi peperangan?

Atau bandul politik perebutan kursi Gubernur Sumatera Utara, sedang dirancang menjad sebuah kompetisi sepakbola yang di awal penyisihan telah menyingkirkan kesebelasan inchumbent.

Penutup

Politik tentu bukan kalkulasi di belakang meja, hitungan-hitungan di atas kertas, apalagi sekedar gerak-gerik bukan suatu gerakan politik.

Menganalisis arah pendulum politik Pilkada Sumatera Utara 2018 yang semakin mengarah pada suatu kompetisi politik bagai kompetisi suatu kesebelasan sepak bola menjadi menarik untuk kita analisis “Bola Politik Pilkada Sumatera Utara” pada sesi berikutnya dengan tiga kesebelasan yang diperkirakan akan berkompetisi yaitu kesebelasan Edy Rahmayadi – Musa Rajek Shah, Djarot Saiful Hidayat – Sihar Pangihutan Hamonangan Siturus Pane dan JR. Saragih – Ance Selian.

Bola itu bulat bundar, tinggal anda memilih menjadi pemilik kesebelasan, manajer, pelatih, penonton dan tim hore atau pemain yang sangat menentukan kesebelasan akan menjadi pemenang atau pecundang dan sebagai pemain sudah pasti anda akan dibayar mahal, sehingga telah banyak antrian pemain di masing-masing kesebelasan. (Like and Share).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top