Opini

BERGURU KEPADA PATUNG

WTKSK PERPUSTAKAAN

Oleh: WAHYU TRIONO KS

Sekolah Pascasarjana Ilmu Administrasi Publik Universitas Nasional

Setelah sekolah beberapa minggu lalu menyelesaikan Ujian Tengah Semester (UTS) dan Perguruan Tinggi baru menyelesaikan pada 18 November 2017 ada catatan-catatan penting yang dapat kita kemukakan berkaitan dengan budaya literasi kita.

Literacy berasal dari bahasa Latin, literatus, yang berarti “a learned person” atau orang yang belajar. Dalam bahasa latin juga dikenal istilah littera (huruf) yang artinya melibatkan penguasaan sistem-sistem tulisan dan konvensi-konvensi yang menyertainya.

Literasi adalah kualitas atau kemampuan melek huruf (aksara) yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Pengertian literasi juga mencakup melek visual yaitu kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (video/gambar). Sebagaimana pengertian literasi yang dikemukakan National Institute for Literacy (NIFL): “Literasi adalah kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat”.

Education Development Center (EDC) juga menyatakan, literasi lebih dari sekadar kemampuan baca tulis. Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan keterampilan (skills) yang dimiliki dalam hidupnya. Dengan pemahaman bahwa literasi mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia.

Menurut UNESCO, pemahaman orang tentang makna literasi sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya, dan pengalaman. Pemahaman yang paling umum dari literasi adalah seperangkat keterampilan nyata, khususnya keterampilan kongnitif membaca dan menulis, yang terlepas dari konteks dimana keterampilan itu diperoleh dan dari siapa memperolehnya.

Dengan budaya literasi ini, kita akan mengetahui kualitas dan kemampuan literasi bangsa Indonesia, hambatan-hambatan penting yang menyebabkan rendahnya budaya literasi dan filosofi pendidikan model apa yang penting untuk mengembangkan budaya literasi bangsa Indonesia. Berkaitan dengan peringatan Hari Guru Nasional pada 25 November 2017, catatan-catatan ini kita persembahkan bagi siapa saja yang berminat dan menekuni dunia pendidikan, praktisi dan ahli pendidikan, para guru, dosen, siswa dan mahasiswa serta orang tua dan lingkungan masyarakat yang berkomitmen bahwa kompleksitas persoalan bangsa ini dapat diselesaikan hanya dimulai dari peningkatan kualitas pendidikan.

Kualitas Budaya Literasi

Programme for International Student Assessment (PISA) menyebutkan, pada tahun 2012 budaya literasi di Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negera yang disurvei. Pada penelitian yang sama ditunjukkan, Indonesia menempati urutan ke-57 dari 65 negara dalam kategori minat baca. Riset Universitas Connecticut Amerika Serikat Tahun 2016 yang terbaru pun menunjukkan bahwa budaya literasi kita masih berada di peringkat 60 dari 61 negara yang disurevey. Data ini sejalan dengan temuan UNESCO yang menyebutkan posisi membaca Indonesia 0.001% —artinya dari 1.000 orang, hanya ada 1 orang yang memiliki minat baca. Hasil survei tersebut cukup memprihatinkan.

Mengapa budaya Literasi di Indonesia begitu rendah? Temuan educenter menyebutkan paling tidak ada lima penyebab utama yang memberikan kontribusi terhadap rendahnya budaya literasi di Indonesia. Pertama, Kebiasaan membaca belum dimulai dari rumah. Aktivitas membaca masih belum dibiasakan dalam ranah keluarga. Orang tua hanya mengajarkan membaca dan menulis pada level bisa, belum terbiasa. Padahal, budaya literasi harus dibiasakan sejak kecil. Misalnya, membiasakan membaca cerita untuk anak atau mengajarkan menulis buku harian.

Kedua, Sarana membaca yang minim. Sarana membaca yang minim ternyata juga membuat kebiasaan membaca ini sulit dilakukan. Sarana tersebut misalnya perpustakaan. Bagaimana kondisi buku di perpustakaan sekolah atau kota Anda? Apakah koleksinya masih buku-buku lama? Apakah Anda sering menemukan buku yang Anda cari di sana? Buku-buku lama dan minimnya koleksi perpustakaan membuat orang-orang malas berkunjung. Sistem inventarisasi perpustakaan yang membutuhkan waktu lama, sering kali menjadi penyebab buku baru tidak bisa segera dipinjam. Selain itu, sistem pengadaan buku yang ditangani oleh orang-orang yang kurang kompeten, membuat koleksi perpustakaan kurang maksimal di beberapa tempat. Ketersediaan buku-buku berkualitas yang minim juga termasuk salah satu penyebab orang malas membaca.

Ketiga, Kurang motivasi untuk membaca. Kurang minat baca adalah penyebab rendahnya budaya literasi di Indonesia. Terkadang, beberapa orang merasa tidak mengerti manfaat membaca sehingga tidak tertarik untuk melakukannya. Membaca membutuhkan waktu khusus, tetapi membaca itu memiliki banyak manfaat. Guru yang lebih banyak memberikan ceramah kepada siswa juga ikut melemahkan budaya literasi. Segala informasi sudah didapatkan dari guru sehingga siswa kurang terbiasa membaca. Bahkan, siswa merasa tidak perlu membaca karena menganggap informasi yang datang dari guru selalu benar.

Keempat, Sikap malas untuk mengembangkan gagasan. Literasi tidak hanya membaca, tetapi dilanjutkan dengan menulis. Bagaimana dapat terampil menulis jika jarang membaca? Menulis membutuhkan kosakata yang akan diperoleh dari membaca. Setelah memiliki bahan untuk menulis, tantangan selanjutnya adalah mengembangkan gagasan. Hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup untuk pengendapan ide. Proses itulah yang biasanya membuat orang malas menulis.

Kelima, Perkembangan teknologi yang makin canggih. Teknologi yang makin canggih ternyata turut meninggalkan budaya literasi di Indonesia. Orang-orang lebih suka bermain dengan gawai daripada membaca. Membaca jadi terasa menjemukan dibandingkan dengan bermain gawai. Teknologi yang makin canggih juga diimbangi dengan media sosial yang makin banyak. Media sosial seperti Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, dan lainnya memungkinkan Anda membaca berita palsu. Sebetulnya, berita hoax tersebut dapat diperangi dengan budaya literasi. Teknologi yang makin canggih seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan bahan literasi.

Dari kelima hal yang menjadi penghambat budaya literasi di Indonesia, hal paling mencemaskan dan mengkhawatirkan kita adalah perkembangan teknologi yang makin canggih dengan hadirnya ponsel dan gadget yang membuat siswa, mahasiswa dan kita semua hanyut dengan lautan dan samudera informasi yang begitu luas. Tertarik pada hal-hal yang lebih bersifat game dan bermain gawai serta melahap informasi-informasi sampah yang kadang-kadang hanya merupakan berita bohong (hoax).

Ponsel dan gadget memang begitu melenakan. Pernahkah anda menyaksikan di mall atau restoran dan cafe ternama, keluarga-keluarga berkelas sedang menikmati hangout bersama keluarga dengan menikmati hidangan, tetapi masing-masing keluarga tidak sedang membangun komunikasi dan interaksi yang makin intim. Mereka masing-masing asyik masuk dengan ponsel dan gadget canggihnya tanpa perduli dengan sekitarnya.

Atau pernahkah anda berada di suatu pertemuan penting untuk memutuskan kebijakan organisasi dan perusahaan tetapi masing-masing anggota dalam organisasi atau perusahaan itu lebih fokus pada ponsel dan gadgetnya. Atau anda sedang berada di ruang kelas ketika dosen menerangkan perkuliahan tetapi para mahasiswa asyik dengan ponsel dan gadget hanya untuk sekedar memeriksa pesan dari WhatsApp Messeger dan pesan pada Facebook.

Bill Gate pemilik Microsoft bersama istrinya menerapkan aturan yang ketat dalam penggunaan teknologi terhadap anak-anaknya: Pertama, melarang anak mereka memiliki ponsel sebelum usia 14 tahun. Kedua, membatasi screentime, sehingga mereka mempunyai waktu lebih banyak untuk dihabiskan bersama keluarga. Ketiga, tidak dibolehkan membawa ponsel pada saat makan. Keempat, menentukan jam berlaku untuk melihat televisi dan ponsel setiap hari sehingga anak-anak bisa pergi tidur lebih awal dibandingkan anak-anak lain.

Ponsel pintar atau gadget memberikan dampak buruk pada anak diantaranya adalah: Pertama, Anak bisa terpapar pengaruh buruk dari internet, juga rentan menjadi korban dari predator yang berkeliaran di internet, atau bullying di dunia digital. Kedua, Memengaruhi perkembangan otak anak. Ketiga, Membuat anak menjadi malas bergerak, sehingga sistem motoriknya lamban untuk berkembang. Keempat, Memengaruhi perkembangan kesehatan mental dan sosialnya. Anak yang kecanduan internet dan gadget tidak bisa bersosialisasi dengan baik, sehingga dia tidak memiliki teman bermain. Kelima, Membuat anak ketergantungan terhadap gadget, sehingga dia tidak bisa mandiri dalam menyelesaikan masalah. Keenam, Anak menjadi lamban dalam berpikir.

Meski diakui bahwa internet juga memiliki konten yang baik dan bagus untuk perkembangan anak. Namun, jika tidak selektif dan dibatasi, screentime yang berlebihan bisa berdampak buruk pada anak. Sebagai orang tua, kita harus berani tegas dalam menetapkan aturan terkait memberikan gadget pada anak. Meski anak mengeluh ini itu, Anda harus tetap kuat menerapkan aturan itu. Almarhum Steve Jobs, pemilik Apple Computers Inc, merevolusi industri TI dengan ciptaannya seperti MacBook, iPod dan iPhone yang terkenal juga menyatakan bahwa dia melarang anak-anaknya untuk menggunakan teknologi terbaru.

Pendidikan yang Mencerahkan

Pendidikan yang berkualitas sering menjadi tumpuan bagi semua orang tua untuk meningkatkan kualitas anak-anak, terutama kemampuan literasi anak. Lihatlah betapa orang tua kelas menegah di kota-kota besar di Indonesia berlomba memasukkan anaknya ke sekolah berkelas internasional dengan bayaran berpuluh juta bahkan dengan bayaran dolar.

Keinginan seperti ini tentu saja tidak salah, tetapi berapa banyak masyarakat Indonesia yang memiliki kemampuan untuk menyekolahkan anak-anak mereka pada sekolah berkelas dan memiliki kualitas internasional. Fenomena semacam ini membuat semakin menjamurnya sekolah unggulan di SMU Negeri di seluruh Indonesia.

Paradigma kualitas anak yang seolah semata ditentukan oleh mewahnya fasilitas sekolah, kualitas guru, kelengkapan informasi membuat kesenjangan pendidikan kita semakin menganga lebar dan ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi siapa saja yang berkomitmen terhadap perbaikan dunia pendidikan kita.

Bagaimana ketertinggalan sekolah-sekolah di daerah yang memiliki keterbatasan fasilitas, tenaga guru yang dianggap kurang berkualitas dan minimnya informasi serta fasilitas buku dan lain-lainnya, jika kita berpikir bahwa kualitas pendidikan anak ditentukan oleh fasilitas pendidikan yang dimiliki oleh sekolah dan masyarakat.

Kritik terhadap dunia pendidikan atau sekolah pernah dikemukakan oleh Paulo Freire, pakar pendidikan dari Brazil yang melihat fenomena pendidikan yang dehumanisasi dan secara pedas mengkritik sistem pendidikan melalui karyanya yang terkenal, Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of Oppresed) yang diterbitkan dalam bahasa Spanyol dan Inggris pada tahun 1970, dan baru diterbitkan pada tahun 1974 di Brazil.

Menurut Freire, “Pendidikan yang dimulai dengan kepentingan egoistik kaum penindas (egoisme dengan baju kedermawanan baru dari paternalisme) dan menjadikan kaum tertindas sebagai obyek humanitarianisme mereka, justru mempertahankan dan menjelmakan penindasan itu sendiri. Pendidikan merupakan perangkat dehumanisasi”

Budayawan Taufiq Rahzen dengan sangat mendalam menilai bahwa, tradisi intelektual itu tidak bisa dibangun hanya oleh sekolah, fasilitas pendidikan yang lengkap dan mewah, buku-buku yang banyak, oleh lautan dan samudera informasi yang luas, tetapi tradisi intelektual itu dibangun oleh suatu pencerahan. Pendidikan yang mencerahkan hanya bisa ditemukan bila sistem pendidikan yang mencerahkan dan membebaskan berupaya mencari ilmu pengetahuan pada empat hal: Pertama, basa, yaitu mencari kebenaran dari koherensi kenyataan-kenyataan. Kedua, masa, yaitu kemampuan untuk menangkap arah atau gerak dari peristiwa. Ketiga, rasa bahasa, yaitu keserasian rasa seni atau keindahan seni dan. Keempat, yasa, yaitu kemampuan untuk menerima yang sakral dan yang suci.

Pendidikan yang mencerahkan dan membebaskan serta pencarian ilmu pengetahuan pada basa, masa, rasa dan yasa dapat dimungkinkan bila siswa atau mahasiswa tidak lagi menjadi obyek pendidikan tetapi menjadi subyek pendidikan. Perhatian yang intens dan menumbuhkan kesediaan untuk menjadi murid adalah salah satu hal paling utama untuk menumbuhkan budaya literasi di Indonesia.

Salah satu cerita paling menarik dari kesediaan untuk menjadi murid dapat kita baca dari kisah Mahabarata. Dikisahkan, seorang guru Drona adalah guru yang khusus mengajar untuk putra-putri Kuru. Suatu ketika datanglah pemuda bernama Ekalavya memohon agar diterima menjadi murid, karena Ekalavya berasal dari golongan Nishada, golongan yang dianggap rendah, maka Drona menolak menerimanya sebagai murid. Lagi pula, Drona mengkhususkan diri untuk mengajari ilmu perang dan persenjataan kepada para pangeran dinasti Kuru saja dan Drona khawatir bahwa kemampuannya bisa menandingi Arjuna, salah satu Pandawa. Di samping itu, Drona berjanji untuk menjadikan Arjuna sebagai satu-satunya kesatria pemanah paling unggul di dunia. Ini menggambarkan sisi negatif dari Drona, serta menunjukkan sikap pilih kasih Drona kepada murid-muridnya, sebab ia sangat menyayangi Arjuna melebihi murid-murid yang lainnya.

Penolakan Drona tidak menghalangi niat Ekalavya untuk memperdalam ilmu keprajuritan. Ia kemudian kembali masuk kehutan dan mulai belajar sendiri. Sebagai motivasi dan inspirasi, ia membuat patung berbentuk Drona dari tanah dan lumpur bekas pijakan Drona, serta memuja patung tersebut seakan-akan itu Drona yang asli. Berkat kegigihannya dalam berlatih, Ekalawya menjadi seorang prajurit dengan kecakapan dalam ilmu memanah, yang sejajar bahkan lebih pandai daripada Arjuna.

Kesediaan menjadi murid sebagaimana kisah Ekalavya, bisa jadi seperti pendidikan yang mencerahkan dan membebaskan seperti suatu semboyan paling menarik dari suatu proses pendidikan dan pembelajaran yaitu: “setiap waktu adalah belajar, setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru”.

Tanggungjawab kualitas pendidikan dan budaya literasi tidak hanya kita tumpukan semua kepada guru dan sekolah atau dosen di perkuliahan. Tetapi setiap kita memiliki tanggungjawab yang sama untuk menciptakan suasana dan lingkungan yang kondusif dan menjadi guru bagi anak-anak untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan budaya literasi. Selamat Hari Guru Nasional!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top