Opini

“AFALA TA’QILUUN” *APAKAH ENGKAU TIDAK BERFIKIR*?

chs-1

Oleh : Chazali H. Situmorang / Dosen AN FISIP UNAS –Pemerhati Kebijakan Publik.

 Kelengkapan utama  manusia yang diberikan Allah SWT, diantaranya adalah manusia mempunyai kemampuan untuk berfikir. Berfikir adalah sebuah gerak mental. Fikir berhubungan dengan kamampuan aqal. Kajian terbaru bahwa manusia bukan hanya sebagai makhluk cerdas secara intelektual, namun juga memliki beberapa kecerdasan emosional dan spiritual.

Berapa kali afalaa ta’qiluun  disebutkan dalam Qur’an atau begitu juga dengan afalaa tatafakkaruun. Yang jelas makna kedua penggalang kata tersebut begitu dalam. Yaitu bagaimana memanfaat anugerah otak yang telah diberikan oleh Allah SWT..

Afala ta’qiluun sendiri disebutkan oleh Qur’an pada akhir ayat-ayat Qur’an. Mengapa pada akhir ayat? Salah satu hikmah yang dapat kita petik adalah pada saat kita mengakhiri bacaan ayat tersebut, Allah ingin kita tidak berhenti pada proses membaca saja tapi melanjutkannya pada proses berpikir. Berpikir adalah salah satu upaya untuk menyimbangkan otak kiri dan kanan sehingga dua posisi otak tersebut berkembang secara optimal.

Afala ta’qilun adalah sebuah daya picu dalam Al-Qur’an kepada ummat Islam untuk berpacu mendaya gunakan akal fikiran untuk menyelesaikan tanggungjawab kepemimpinan  di muka bumi.

Persoalan kemudian kenapa berfikir tidak menjadi sebuah kekuatan peradaban manusia yang beriman. Banyak persolan hidup berasal dari hal sederhana yang selalu berulang dan berakumulasi yang mengakibatkan banyak persoalan. Bagaimana dengan Islam? Sebenarnya konsep refleksi diri  dalam Islam dikenal dengan muhasabah. Muhasabah bermakna sebagai proses untuk menghisab, berpikir, atau menela’ah apa yang telah dilakukan sepanjang hari.

Umar bin Khattab pernah menganjurkan untuk melakukan hisab sebelum kita dihisab kelak nantinya. Tujuan muhasabah sendiri adalah untuk mengkajiulang perilaku dan mengubahnya ke arah yang lebih baik. Sedangkan Rasulullah sendiri menegaskan bahwa orang yang pintar adalah orang yang terus berpikir dan mempersiapkan kematiannya.

Apa yang kita lihat dan rasakan di maysarakat Indonesia saat ini. Apakah masyarakat yang suka berfikir?. Melakukan muhasabah. Melakukan kajiulang perilaku dan perbuatan kita, dan mengubahnya untuk kemaslahatan manusia.  Proses berfikir itu adalah karakter manusia. Perbedaan manusia dengan mahluk lainnya adalah kemampuannya berfikir. Maka itu kecerdasan itu tidak lepas dari kermampuan berfikir yang baik .  Berfikir itu sesuai dengan maqomnya.

Ada kisah  di zaman Rasulullah. Suatu Hari Rasulullah sedang berjalan bersama Sayyidina Ali.di tengah jalan,Mereka dapati Seorang wanita tua yang sedang khusyuk berdo’a. Rasulullah dan Sayyidina Ali berhenti dan menunggu wanita tersebut menyelesaikan do’anya. Setelah wanita tersebut selesai berdo’a, mereka segera menghampiri wanita tersebut dan terjadilah dialog diantara mereka. Rasulullah bertanya, ”Wahai Ibu,apa yang sedang kau lakukan tadi” ? Wanita tersebut menjawab bahwa dia berdo’a.  Rasul kembali bertanya, ”pada Siapa kau Berdo’a”? Wanita tersebut dengan tegas menjawab Allah.Dimana Allah ? tanya Rasul kembali. ” Di Langit yaa Rasul ” jawab wanita tersebut dengan mantap. Rasulullah tersenyum dan kemudian meninggalkan wanita tersebut. Sayyidina Ali yang melihat kejadian tersebut protes pada Rasulullah. Beliau berkata….”Yaa Rasul,kenapa Kau biarkan wanita tersebut menjawab seperti itu” ? Bukankah itu jawaban yang salah ? Rasul menjawab : “Wahai Ali, kemampuan setiap orang berbeda dan wanita tersebut menjawab sesuai dengan kadar kemampuannya”. Sayyidina Ali pun terdiam mendengar jawaban Rasulullah.

 

Kemampuan berfikir

Afala Ta’qiluun, Afala Tatafakkarun, yang artinya apakah engkau tidak berfikir, apakah engkau tidak menggunakan  otakmu?, merupakan peringatan Allah kepada manusia untuk selalu berfikir. Tentu berfikir setiap apa yang dibaca, berfikir apa yang dilihat dan berfikir sesuai  dengan tingkat kemampuan kita.

Tentu kemampuan berfikir setiap  manusia disesuaikan dengan fungsi dan perannya dalam kehidupan kemasyarakatan. Kalau seorang  Presiden, haruslah kapasitasnysa berfikir sebagai seorang pemimpin bangsa yang berfikir keras untuk kesejahteraan bangsanya.  Tanpa pandang bulu sesuai konstitusi dan sumpah jabatannya. Jika seorang petugas partai haruslah berfikir sebagai petugas partai yang berfikir keras untuk kepentingan  partainya dan loyal  kepada ideologi dan ketua partai.  Kalau seorang ulama, kepamampuan berfikirnya adalah harus kearah untuk membawa umat untuk tidak sesat dalam kehidupannya.

Jadi semakin tinggi kehidupan sosial dan politik seseorang, tentu kemampuan berfikirnya juga meningkat sejalan dengan derajat atau maqom status sosialnya dimasyarakat.  Jangan seorang wakil rakyat misalnya atau pejabat tinggi negara,  cara berfikirnya sama dengan wanita tua yang dijumpai Rasulullah sedang berdoa, dan ditanyakan Nabi, “dimana Allah”, dijawabnya di “langit”. Rasulullah tidak membantahnya karena beliau sadar sampai disitulah kemampuan berfikir wanita tua itu.

Bagaimana kita menilai kemampuan berfikir sesorang itu proporsional dengan jabatan dan atau status sosialnya. Tidaklah sulit. Lihat dan rasakan saja keputusannya sebagai pejabat publik tersebut.  Karena semua manusia itu  berfikir (afala ta’qiluun) termasuk rakyat, maka rakyat itu sendiri punya  nalar dan norma berfikirnya yang berlaku umum. Misalnya  pemahaman mereka tentang rasa keadilan, rasa kemanusiaan, kesenjangan, kesehatan, kemakmuran, dan kesejahteran.

Kalau seorang pemimpin atau pejabat negara yang merupakan pejabat publik, produk berfikirnya tidak sejalan atau menyimpang dari rasa keadilan rakyat, rasa kemanusiaan rakyat, menambah jurang kesenjangan kehidupan ekonomi rakyat, tidak melindungi kesehatan rakyat,  tidak memakmurkan  dan mensejahterakan rakyat.  Itu artinya kemampuan berfikirnya tidak sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai pemimpin. Padahal  mereka itu bukanlah seperti wanita tua renta yang disebut Rasulullah.

Akibatnya terjadilah  suatu situasi yaitu distrust rakyat yang juga punya nalar dan norma berfikir sendiri  terhadap pemimpinnya yang membuat kebijakan yang tidak masuk dalam nalar  berfikir rakyat.

Kesenjangan berfikir antara pemimpin dengan rakyatnya menimbulkan suatu situasi yang disebut Anomali. Ketidaknormalan; penyimpangan dari normal; kelainan, yang menyebabkan suatu negara atau masyarakat menjadi kacau atau kehilangan makna sebagai negara. Sebab hekekatnya negara itu didirikan untuk mewujudkan masyarakat menjadi sejahtera.

Contoh konkrit  kemampuan berfikir para pemimpin atau pejabat negara  yang anomali antara lain: petani  sedang panen raya, import beras. Indonesia lautnya  luas dan punya  pulau yang banyak membuat garam sejak dulu ( pulau Madura), mengimport garam. Telur naik, kenapa tidak ditawar. Petani tebu disuruh menanam tebu, import gula. Singkong yang dimana saja dapat tumbuh, import singkong. Mahal daging, disuruh makan bakicot. Ada kelapa sawit hanya dibuat CPO, kirim ke Malysia diolah jadi minyak sayur/minyak goreng,  import lagi ke Indonesia. Mau kaya, bisnis racun  kalajengking. Indonesia surga bagi importir.

Pokoknya dalam nalar berfikir pejabat itu import lebih mengguntungkan dari pada rakyatnya yang memproduksi. Tidak terkecuali menguntungkan bagi pejabat itu sendiri.   Penjelasan mereka di media elektronik dan cetak  jelas-jelas tidak sesuai dengan nalar dan  berfikir rakyatnya. Apakah rakyat percaya?.

Akhirulkalam, Kembali kita pada statetmen  Allah di beberapa ayatnya pada akhir kalimat firman Allah   : “Apakah kalian tidak berpikir” kalimat ini dan kalimat yang serupa digunakan sebanyak 20 kali dalam al-Quran. Suatu bukti begitu seriusnya Allah SWT menyuruh kita berfikir. Karena dengan berfikir, essensi sempurnanya  sebagai manusia.

Cibubur, 1 Juni 2018

Silahkan di share jika bermanfaat

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top