General Issue

TALBIYAH MELAWAN SYIRIK

ka'bah

By : Dr. H. Chazali H. Situmorang ( Pemerhati Kebijakan Publik-Dosen FISIP UNAS)

Kenapa kita bicara soal talbiyah. Apa gerangan yang dimaksud dengan talbiyah, dan apa hubungannya dengan sesuatu yang bersifat syirik. Dalam menjelang dan memasuki bulan-bulan Muharram yang terbesit di kepala kita adalah waktu-waktu dimana diselenggarakannya ibadah  haji.

Bagi Umat Islam di dunia, termasuk Indonesia melaksanakan ibadah haji suatu kewajiban  ibadah yang setidaknya sekali seumur hidup.  Haji adalah ibadah fisik yang sangat berat dan melelahkan. Suatu ibadah napak tilas mengikuti perjuangan Nabi Muhammad hijrah dari makkah ke Madinah, dan kemudian kembali ke makkah dan melaksanakan ibadah haji, yang diikuti oleh umatnya sampai akhir zaman.

Dalam melaksanakan haji dan umroh, ucapan talbiyah adalah sesuatu yang harus di lafaskan bagi jemaah haji dan umroh pada saat niat Ihram.

Tidak sekedar bacaan tanpa makna, talbiyah merupakan pernyataan sakral dan penting bahwa seseorang telah bertauhid kepada Allah, mendeklarasikan keesaan Allah, dan “berjanji” untuk menjauhi syirik dan hanya berserah diri serta meminta pertolongan hanya kepada Allah SWT.

‘Abdullah bin ‘Umar menuturkan bahwa talbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ

Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu).

Nafi’ mengatakan bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar menambah lafazh talbiyah,

لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ

Labbaik labbaik wa sa’daik wal khoiru biyadaik war roghbaa-u ilaika wal ‘amal (Aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu dengan senang hati. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Segala harapan dan amalan hanya untuk-Mu).” (HR. Bukhari no. 1549 dan Muslim no. 19).

Kalimat “labbaik Allahumma labbaik” di atas maksudnya adalah aku penuhi panggilan-Mu, wahai Rabbku, sekali lalu sekali. Kalimat “laa syarika lak”, maksudnya adalah aku penuhi panggilan-Mu semata, tidak ada sekutu bagi-Mu. Artinya, kalimat ini berisi pengakuan untuk tidak berbuat syirik. Ini menunjukkan ibadah haji dan ibadah lainnya mesti dilakukan dengan ikhlas untuk mengharap ridha Allah Ta’ala.

Talbiyah bermakna mengesakan Allah sebagai Tuhan semesta alam, Zat yang paling berkuasa atas seluruh makhluknya. Dengan memahami dan mendeklarasikan bahwa Allah lah yang maha satu, maka kita harus memantapkan diri untuk senantiasa selalu berserah diri kepada Allah, meminta pertolongan hanya kepadaNya dan percaya akan keputusanNya. Kita juga harus senantiasa bermunajat, berkeluh kesah hanya kepadaNya, bukan kepada yang lain.

Dengan memahami dan memaknai bacaan tauhid talbiyah, itu artinya kita juga harus mengimplementasikannya dalam perbuatan dengan sebisa mungkin menjaga kalimat talbiyah. Caranya adalah dengan menjalankan tauhid, menjauhi segala bentuk yang bisa membatalkan tauhid seperti syirik meskipun hanya sedikit.

Dengan mengetahui dan memahami talbiyah, kita juga harus paham bahaya dan dosa dari menduakan Allah. Syirik adalah dosa yang sangat besar bahkan dosa yang tak  termaafkan. Oleh karena itu, saat kita bertalbiyah, sejatinya kita sedang mendeklarasikan janji dan mengerti serta paham konsekuensinya. Sehingga perkataan talbiyah yang kita ucapkan sejalan dengan perbuatan kita.

Memecah kendi dan menyiram ban pesawat

Apakah ritual memecah kendi dan menyiram dengan air kendi roda  pesawat  , dimana ratusan jemaah haji bersiap-siap berangkat menuju ke tanah suci Makkah, yang dilakukan oleh Manajemen PT. Garuda Indonesia  hari Minggu kemarin (7/7/2019 saat keberangkatan pertama di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Jawa Tengah, sesuai dengan talbiyah yang sudah diuraikan diatas?.

Apakah mentauhidkan Allah SWT, dapat dimanifestasikan dengan memecah kendi di depan pesawat dan menyiram dengan air kendi roda pesawat yang hendak berangkat?.   Itu namanya mengada-ngada.

Ritual tersebut  termasuk syirik dan saat ini sudah banyak diributkan oleh masyarakat  muslim, karena tidak sesuai dengan niat dan tujuan mereka yang berangkat ibadah haji. Saya yakin rombongan haji di pesawat perdana yang dari Solo tersebut, tidak tahu bahwa ada acara ritual seperti itu.

Bagaimana kaum muslim Indonesia tidak marah dan kesal, karena tujuan jemaah haji adalah untuk memerangi kemusyrikan dan menghindari sesuatu yang syirik dengan bertalbiyah, tetapi dalam keberangkatan dilepas dengan sesuatu yang berbau syirik.

Jika Direktur Utama PT.Garuda Indonesia tidak paham ( mungkin non muslim, jika dibaca dari namanya orang Bali), dapat dimaklumi, tetapi jajaran Direksinya atau  General Manager banyak beragama Islam, kenapa tidak mengingatkan untuk jangan membuat ritual yang menimbulkan kontroversial.  Berarti mereka yang beragama Islam itu lebay juga.

Sebaiknya, jajaran Direksi PT.Garuda Indonesia meminta maaf kepada jemaah haji, khususnya kloter yang berangkat dilepas dengan ritual kendi tersebut, dan kepada umat Islam umumnya. Supaya persoalannya tidak melebar, dan menimbulkan perasaan tidak puas penumpang.

Ingat penumpang adalah aliran darah bagi maskapai Garuda.  Bayangkan jika Garuda kekurangan darah, pucat pasih, bisa pingsan dan akhirnya tewas. Tentu kita tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Karena  maskapai Garuda adalah maskapai kebanggaan kita.

Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak.

Cibubur, 89 Juli 2019

Share jika bermanfaat

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top