General Issue

SilaturaHMI Perkaderan

hmi-indonesia

Oleh. WAHYU TRIONO KS

Hari ini, 5 Februari 2018 menjadi hari yang istimewa bagi saya dan istri, karena tepat pada hari ini telah 14 tahun kami menjalani hidup berkeluarga dengan dikarunia dua putri dan seorang putra. Lebih-lebih yang menjadi istimewa adalah pada hari ini Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memperingati Dies Natalisnya atau hari kelahirannya yang ke 71 Tahun dan di organisasi HMI ini kami dipertemukan oleh Allah SWT dan mengikatkan diri dalam SilaturaHMI Perkaderan bukan lagi di organisasi HMI tetapi di dalam satu keluarga yang In Sya’ Allah selalu dalam limpahan rahmat, karunia dan kasih sayang dari Allah SWT.

Beberapa catatan kecil kali ini menjadi hal yang istimewa pula untuk adik-adik yang masih aktif menjadi aktivis di Himpunan Mahasiswa Islam berkaitan pada dua momentum SilaturaHMI Perkaderan. Pertama, Dies Natalis atau hari kelahiran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang lahir pada 5 Februari 1947 dan didirkan oleh Ayahanda Prof. Drs. H. Lafran Pane ini terasa menjadi suatu peristiwa perkaderan yang sangat istimewa ketika pendiri HMI Prof. Drs. H. Lafran Pane telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional beberapa waktu yang lalu.

Kedua, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam waktu yang dekat ini direncanakan akan menggelar Kongres Ke-30 pada tanggal 14 – 19 Februari 2018 di Ambon, Maluku. Ini merupakan SilaturaHMI Perkaderan menurut hemat saya karena keseluruhan proses pada Kongres HMI yaitu: pertanggungjawaban kepengurusan, pembahasan dan penetapan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Program Kerja, Pedoman Organisasi, Pedoman Perkaderan dan seluruh ketentuan dan peraturan organisasi dan yang terakhir adalah pemilihan dan penetapan Ketua Umum/Formatur dan Made Formatur PB HMI, pengusulan nama-nama Calon Anggota Majelis Pekerja Kongres (MPK) PB HMI kesemuanya ini adalah proses perkaderan yang musti diikuti oleh kader-kader HMI yang ingin menjadi kader yang paripurna.

Dengan dua momentum penting ini, tulisan ini hendak memberikan catatan atas nama Alumni HMI yang menurut saya perlu menjadi refleksi bagi kita terutama adik-adik yang masih aktif di dalam kepengurusan dan masih menjadi kader Himpunan Mahasiswa Islam di seluruh dunia.

SilaturaHMI

Dalam ikatan SilaturaHMI yang mendalam, catatan awal ini kita mulai dengan perasaan duka yang mendalam atas berita meninggalnya saudara kita Achmad Budi Cahyanto (Alumni HMI Komisariat Sastra Universitas Negeri Malang) karena mengalami penganiayaan ketika sedang menjalankan proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah SMAN 1 Torjun Sampang Madura. Berita duka kedua adalah berita tentang meninggalnya Kakanda Ir. Hasan Basri Daulay, Alumni dan mantan Instruktur HMI Cabang Medan. Melalui SilaturaHMI “Zaman Now” kita bisa saling mendo’akan dan mengekspresikan kepahitan, keprihatinan dengan berbagai cara dan bentuk dukungan.

Memang salah satu kekuatan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah pada ikatan SilaturaHMI-nya atau Almarhum Gus Dur mempopulerkan dengan sebutan HMI Conection. SilaturaHMI di HMI adalah merupakan ikatan yang benar-benar melewati batas dan sekat apapun, tidak dibatasi oleh batasan darah, kekeluargaan, kesukuan, budaya, atau mashab atau pandangan politik dan yang sejenisnya.

Selagi Anda berada dalam satu organisasi HMI atau Anda pernah aktif atau bahkan hanya sekadar beramin-main hanya mengikuti perkaderan yang paling rendah sekalipun begitu Anda menyebut kader atau alumni HMI berarti anda adalah saudara dan keluarga bagi yang lainnya. Ikatan persuadaraan, kekeluargaan dan SilaturaHMI ini begitu sangat istimewa bagaikan saudara kandung dengan keakraban yang begitu sempurna dengan panggilan Kakanda atau Abang untuk senior dan alumni yang HMI-Wan atau Kakak atau Ayunda untuk senior dan alumni yang HMI-Wati.

Ikatan SilaturaHMI di HMI begitu kuat diikat oleh suatu kekuatan Islam yang inklusif, modern dengan ideologi kebangsaan yang saling menguatkan untuk peningkatan kualitas dan kapasitas keilmuan, keislaman dan keindonesiaan. Ikatan semacam ini sering pula diwujudkan dalam bentuk saling memberikan dukungan untuk aktivitas dan kerja-kerja nyata dalam kehidupan masyarakat di seluruh sektor kehidupan, baik di lingkungan legislatif, eksekutif, yudikatif, lintas profesi dan seluruh bidang yang menyangkut kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dengan itu pula sering sekali pihak-pihak di luar HMI atau Alumni HMI menganggap SilaturaHMI itu dengan konotasi yang negatif dengan sebutan HMI Conection. Tentu kita tidak hendak mengulas tentang tudingan yang sempat meresahkan itu, lantaran SilaturaHMI di HMI dalam konotasi yang demikian itu sifatnya sangat personal, individual dan kelompok tertentu yang membangun SilaturaHMI untuk melakukan nepotisme dan melakukan kerjasama atau tolong menolong untuk berbuat keburukan, kejahatan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Dalam konteks SilaturaHMI di dalam HMI dan Alumni HMI tentu saja SilaturaHMI yang dibangun dalam perspektif nilai-nilai ajaran Islam, sebagaimana QS. Al-Maidah Ayat 2: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Kemudian Allah SWT di dalam QS. Al-Ashr Ayat 1-3: “Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman, dan beramal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran, dan (saling menasihati) dalam kesabaran.”

Kesemuanya itu dimanifestasikan sebagai segolongan umat sebagaimana di dalam QS. Ali Imran Ayat 104: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Atau sebagaimana Allah nyatakan pula di dalam QS. Ali Imran Ayat 110: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imran: 110).

SilaturaHMI di HMI yang semacam ini yang merupakan manifestasi dari wujud persaudaraan karena Allah SWT dan senantiasa meningkatkan pengabdian kepada Allah SWT sebagai hamba Allah sebagaiman QS. Adz-Dzaariyaat Ayat 56: “Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”

Begitu pula hendaknya, SilaturaHMI di HMI itu membangun kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan yang Allah telah takdirkan kita sebagai khalifah di muka bumi sebagaimana QS. Al-Baqarah Ayat 30: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Dengan kesemuanya itu adalah untuk mengemban tugas mulia untuk memakmurkan bumi Allah SWT, sebagaimana QS. Hud Ayat 61: “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)”.

Sungguh SilaturaHMI semacam inilah yang mampu menghantarkan suatu negeri yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo yang diridhoi Tuhan. Suatu kepemimpinan yang menjadikan negerinya menjadi negeri yang baik, dengan Tuhan yang maha pengampun, Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur (QS: Saba. 15). Inilah SilaturaHMI yang paling esensial yang harus dibangun sesuai dengan misi dan tujuan HMI, yaitu: “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam, dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil, makmur yang diridhoi Allah SWT.”

Perkaderan HMI

Catatan-catatan indah tentang SilaturaHMI produktif sebagaimana yang telah kita kemukakan itu tidak memiliki kekuatan dan elan vital apapun tanpa ditopang oleh suatu Perkaderan HMI dari jenjang Masa Perkenalan Anggota (MOP), Basic Training atau Latihan Kader Tingkat Satu (LK I), Intermediate Training atau Latihan Kader Tingkat Kedua (LK II), Senior Course (Kursus Senior/Instruktur) sampai dengan Advance Traing atau Latihan Kader Tingkat Ketiga (LK III).

Sangat penting pula bagi kita saat ini untuk mengingatkan kepada semua terutama adik-adik yang masih menjadi pengurus dan kader di HMI bahwa Kongres sebagai yang akan dilaksanakan di Ambon pada 14 – 19 Februari 2018 mendatang menjadi suatu SilaturaHMI perkaderan terpenting ketika semua memfokuskan pada hal-hal berikut.

Pertama, penataan suatu organisasi sebagaimana para ahli ilmu andministrasi memandang organisasi sebagai suatu organisme atau mahluk hidup menjadi suatu pertimbangan penting bagi kader HMI untuk melihat perkembangan organisasi yang mengalami siklus biologis lahir, tumbuh, berkembang, dewasa, mangalami penuaan dan lalu mati. Dengan mengenali siklus organisasi seperti ini kita memiliki kesanggupan untuk menata dan mengelola organisasi dengan sebaik-baiknya. Serta mengerti pula kapan organisasi mengalami titik penurunan dari berbagai sisinya yang dengannya kita mampu mempaerpanjang masa dan usia organisasi dengan melakukan penataan sistem organisasi, perilaku organisasi dan pengembangan organisasi.

Kedua, hal terpenting yang menjadi fokus adalah berkenaan dengan ketersediaan data dan informasi yang cukup berkaitan dengan hasil riset dan penelitian yang dilakukan oleh Bidang Penelitian dan Pengembangan dari semua tingkatan organisasi agar kita mengetahui apa yang menjadi masalah, kendala serta apa pula yang menjadi kebutuhan dan harapan para kader HMI dari tingkat komisariat sampai ke tingkat yang tertinggi PB HMI dan terpenting adalah apakah Perkaderan HMI, baik dilihat dari metodologi, kurikulum dan seluruh perangkat sebuah pelatihan atau training telah memenuhi keinginan, kebutuhan dan harapan bagai para calon mahasiswa dan mahasiswa yang kelak akan menjadi kader atau aktivis HMI. Perumusan kembali semua tata aturan organisasi terutama Pedoman Perkaderan yang mengikuti selera “zaman now” sepanjang tidak melenceng dari nilai-nilai ke-HMI-an yaitu nilai keilmuan, keislaman dan keindonesiaan perlu untuk menjadi suatu pertimbangan ketika akan mengambil keputusan penting organisasi di Kongres HMI.

Ketiga, budaya buruk dalam seleksi kepemimpinan, dan kompetisi dalam mengisi jabatan-jabatan struktural di HMI terutama untuk menjadi seorang Ketua Umum/Formatur Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) dengan cara-cara yang jauh dari budaya organisasi mahasiswa harus dihindari yaitu: Pertama, semua kader dan aktivis musti menghindari pelanggaran terhadap nilai-nilai keintelektualan yang menampilkan solah-olah bukan organisasi mahasiswa yang intelek cenderung destruktif dan suka pada kekerasaan secara fisik dengan berlindung dibalik apologi dinamika dalam proses seleksi dan kompetisi pemilihan Ketua Umum.. Kedua, aktivis dan kader HMI musti menghindari praktik-praktik money politic dan money buy voters yang menabrak nilai-nilai keislaman dalam proses seleksi dan kompetisi pemilihan Ketua Umum. Pilihlah para kandidat Ketua Umum yang berani bersumpah di atas Al-Quran untuk menjunjung nilai-nilai Keislaman ketika memimpin organisasi dan berani menolak dan tidak menpraktikkan money politic dan money buy voters ketika mengikuti proses seleksi dan kompetisi untuk menjadi Ketua Umum. Ketiga, aktivis dan kader HMI sudah semestinya mengakhiri praktik-praktik primordialiseme yang sektarian dengan menampilkan sentimen kelompok, kesukuan, asal daerah dan yang sejenisnya sehingga wajah HMI terlihat begitu ekslusif tidak lagi menampilkan wajah inklusifisme. Inilah yang menjadi wajah masyarakat bangsa yang tengah berada pada tarikan inklusifisme dan ekslusifisme, toleran dan intoleran, Ke-bhinnekatunggalika-an dan keikaan.

Kembali pada khitah SilaturaHMI yang paling substansi, esensi dan produktif dalam HMI Conection yang memiliki nilai positif serta SilaturaHMI Perkaderan melalui momentum Kongres HMI Ke-30 di Ambon yang akan dihadiri oleh aktivis, kader dan alumni HMI dari Sabang sampai Merauke, dari Miagas sampai Pulau Rote menjadi suatu keniscayaan, bila tidak ingin HMI segera mengalami kematian. Selamat Dies Natalis HMI Ke-71 dan Selamat Kongres HMI Ke- 30. Yakin Usaha Sampai, Turut Al-Qur’an dan Hadits. [ ]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top