General Issue

RATNA SARUMPAET : DI UJUNG PERJALANAN YANG SUNYI

images-2

Oleh : Dr. Chazali H. Situmrang / Dosen FISIP-UNAS dan Pemerhati Kebijakan Publik 

Beberapa hari belakangan ini, selain bencana alam yang menimpa Palu, Donggala dan Sigi yang sangat memilukan, juga berita tentang Ratna Sarumpaet (SR), berbohong  kasus pemukulan wajahnya sampai “bonyok” yang  dilakukan oleh 3 orang tidak dikenal di Bandung. Yang benar kata RS dan diakui oleh Polisi, adalah bonyok karena oplas  alias operasi pelastik di salah satu klinik di Jakarta.

Capres dan Cawapres Nomor 2 dan elite partai politik pendukung yang dibohongi menjadi bulan-bulanan di media sosial dan tidak memerlukan waktu lama Capres Nomor 2 menyatakan permohonan maaf atas kebohongan yang dilakukan RS yang juga anggota Tim Kampanye Nasional Capres dan Cawapres Nomor 2.  Sudah dapat diduga langkah cepat berikutnya yang dilakukan Capres Nomor 2 adalah memberhentikan RS sebagai Juru Kampanye Paslon PADI.

Situasi semakin seru, Polisi menangkap RS di Bandara Soekarno Hatta malam hari ( 4 Oktober 2018), hendak ke Chile, menghandiri konfrensi Internasional, dengan status tersangka karena melakukan kebohongan (hoax).

Dalam seminggu ini, masyarakat baik melalui medsos maupun pemberitaan  di media cetak dan televisi, khususnya para elite atau jurkam dua kubu memberikan tanggapan dan pendapat yang luar biasa dan  memberikan kesan menjunjung tinggi moralitas. Menempatkan   perbuatan berbohong itu suatu kejahatan dan perlu diberikan hukuman setimpal. Seolah-olah kita menonton para elite sebagai manusia “suci” yang tidak pernah berbohong kepada publik  dalam perjalanan hidupnya. Yang lebih hebat lagi sebagai bentuk moralitas yang tinggi tadi, bukan saja pembohongnya yang dilaporkan ke Polisi, tetapi juga mereka yang dibohongi sekalian dilaporkan ke Polisi. Hebatkan!.

Tanpa kita sadari, dan tanpa merasa malu, berbagai kebohongan telah dilakukan oleh stakeholder di dinegeri ini.  Kebohongan pejabat publik terhadap rakyatnya atas kebijakan yang dilakukan. Penghalusan bahasa seperti kenaikan harga diperhalus menjadi penyesuaian harga. Janji – janji politik (kampanye) yang tidak terpenuhi. Bahkan ada politisi yang menyatakan  janji dalam kampanye bisa saja tidak terpenuhi jika situasinya tidak memungkinkan. Kalau begitu jangan berjanjilah. Dalam moralitas agama jani itu adalah utang. Utang harus dibayar.

RS diujung  perjalanan hidup

RS sudah ditangkap dan dijadikan tersangkas dan ditahan di Polda Metro Jaya.  RS ditetapkan sebagai tersangka dengan dijerat Pasal 14 UU 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan UU ITE Pasal 28 juncto Pasal 45. Dia terancam hukuman 10 tahun penjara.

Bagi RS penangkapan, penahanan bukanlah sesuatu yang baru. Berulangkali sudah dialaminya mulai dari periode administrasi Orde Baru, sampai Orde  Reformasi dan Orde sekarang ini. Kalau kita lihat perjalanan hidupnya yang sangat berliku dengan romantisme perjuangan yang sangat langkah bagi seorang perempuan akan memberikan sudut pandangan yang berbeda tentang RS.

SR adalah seorang seniman sekaligus aktivis LSM, yang sangat dikenal di Indonesia maupun di luar negeri. Melalui Teater Satu Merah Panggung, RS terus berkiprah. Perjuangannya yang sangat dikenal adalah kasus Marsinah. Pada September 1997, Kepala Kepolisian RI menutup kasus pembunuhan Marsinah dengan alasan bahwa DNA Marsinah dalam penyelidikan telah terkontaminasi. Setelah penutupan kasus ini, RS menulis monolog “Marsinah Menggugat” dan mengusungnya dalam sebuah tur ke sebelas kota di Jawa dan Sumatera.

Monolog ini dianggap sebagai karya provokatif, di setiap kota yang mereka datangi, RS dan timnya terus mendapat tekanan ketat dari pihak aparat pemerintahan kala itu. Di SurabayaBandung dan Bandar Lampung, pertunjukan ini bahkan dibubarkan secara represif oleh pasukan anti huru-hara. Dengan tingginya kontroversi Marsinah Menggugat, RS berhasil membuat kasus pembunuhan Marsinah mencuat. Sebaliknya, sejak itu rumah RS di Kampung Melayu Kecil sekaligus menjadi sanggar Satu Merah Panggung terus diawasi intel.

Menjelang Sidang Umum MPR, Maret 1998, ketika pemerintah mengeluarkan larangan berkumpul bagi lebih dari lima orang, RS bersama Siaga justru menggelar sebuah Sidang Rakyat “People Summit” di Ancol. Pertemuan ini kemudian dikepung oleh aparat dan RS, tujuh kawannya dan putrinya (Fathom) ditangkap dan ditahan dengan banyak tuduhan, salah satunya makar.

Sesaat setelah RS ditangkap, Edmund William, Atase Politik Amerika di Indonesia waktu itu mengatakan dihadapan para wartawan, “Perempuan ini memberikan nyawanya untuk perubahan. Kualitas pemimpin yang dibutuhkan Indonesia kalau Indonesia betul-betul mau berubah“. Hal yang sama di saat yang sama juga diucapkan Faisal Basri “Kita kehilangan seseorang yang mau memasang badannya untuk demokrasi

Bersama kawan-kawannya RS kemudian ditahan di Polda Metro Jaya. Sepuluh hari terakhir berada di LP Pondok Bambu, gerakan mahasiswa dan rakyat yang mendesak agar Suharto turun terus memuncak. LP Pondok Bambu dikawal ketat karena mahasiswa mengancam akan mengepung untuk membebaskan RS. Setelah 70 hari dalam kurungan, sehari sebelum Suharto resmi lengser, RS dibebaskan.

Setelah Suharto lengser, RS  tidak langsung melenggang. Bersama Siaga, 14-16 Agustus 1998, ia menggelar “Dialog Nasional untuk Demokrasi” di Bali Room, Hotel Indonesia. Dihadiri sekitar 600 peserta dari seluruh Indonesia, forum yang dihadiri semua lapisan ini (aktivis, budayawan, intelektual, seniman dan mahasiswa) merumuskan cetak biru Pengelolaan Negara RI. Cetak biru itu kemudian diserahkan ke DPR dan pada Habibie, sebagai Presiden saat itu.

Sebagai penggagas Dialog Nasional untuk Demokrasi serta keterlibatannya dalam Peristiwa Semanggi II membuat RS  kembali mejadi target. Ia dituduh mengelola gerakan para militer dan dituduh bekerja sama dengan tokoh militer tertentu melakukan pelatihan militer di wilayah Bogor. Menhankam Pangab waktu itu bahkan secara khusus menggelar petemuan dengan para editor seJakarta mempresentasikan dan menekankan betapa berbahayanya RSa. Oleh kawan-kawannya RS  kemudian disembunyikan. Oleh situasi politik yang terus meruncing, November 1998 RS  akhirnya diungsikan ke Singapura dan selanjutnya ke Eropa.

Sebelum  penangkapan tanggal 4 Oktober 2018 yang lalu, RS juga pernah ditangkap dengan tuduhan makar. Kejadiannya pada pagi hari tanggal 2 Desember 2016, RS  dari kelompok yang diduga merencanakan kudeta terhadap pemerintah Presiden Joko Widodo. Ia dilepaskan keesokan harinya.

Dari sekelumit perjuangannya yang diuraikan ditas, dan catatan-catatan lain yang  diperoleh, rasanya tidak  pernah mendengar RS berbuat atau melakukan kebohongan seperti yang dilakukannya baru-baru ini. Sebab perbuatan berbohong itu memerlukan proses dan pengalaman, agar kebohongan itu menjadi “mantap”.

Tetapi pengalaman RS sebagai seniman, sutradara, pemain theater, tentu dunia akting adalah sesuatu yang sangat dikuasainya.  Lantas apakah kemampuannya sebagai seniman,  pemain sandiwara di pentas, lalu kebohongan itu suatu kebiasaannya. Catatan itu yang sampai hari ini belum ada ditemukan.  Apalagi jika saya bukan orang yang dekat dan mengenal RS secara personal.

Apakah mungkin, sekali lagi hanya menduga-duga, bahwa perjalanan kehidupan yang keras, penuh intimidasi, tekanan mental, dan brbagai perlakukan yang menekan kehidupannya, dalam usianya yang 70 tahun ini “menyerah” menghadapi “ancaman” yang dahsyat trhadap keluarganya. Atau memang RS sedang bermain peran sandiwara menebarkan kebohongan dan menyatakan sebagai  penyebar hoax yang terbaik.

Semua itu tentu ada landasan motivasi. Motivasi itulah yang harus digali dan diselusuri oleh penyidik Polisi.  Apakah Polisi percaya kebohongan yang dilakukan RS karena keteledoran atau untuk menutupi informasi bahwa sebenarnya sedang Oplas  kepada keluarganya, dengan menyatakan di hajar orang yang tidak dikenal. Polisi harus hati-hati dan bijak menangani persoalan kebohongan ini.  Jika tidak akan dijadikan  isyu kampanye dengan Topik “Kebohongan”.  Gejala itu sudah terlihat dengan adanya silang pendapat antara mana lebih kejam Pembohong atau dibohongi dalam konteks yang lebih luas yaitu Kebijakan Publik.

Kini RS berada di ujung jalan kehidupan yang “sepi” tanpa hiruk pikuk kehidupan yang dilakoninya selama ini. Di tahanan Polda Mertro Jaya biasanya  untuk 20 hari  harus dilaluinya dengan tabah. Sebagai seorang muslimah, tiada jalan lain selain berdoa dan berserah diri pada Allah.SWT. Perenungan diri yang dalam, tentu perlahan dapat merubah kehidupan menjadi zuhud, tawakkal dan qanaah. Amiin.

(Silahkan di share jika bermanfaat)

Sumber:

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top