General Issue

“RAJA” TERKENA AMNESIA, PANGLIMA TALAM PANIK

FOTO SAYA1

Oleh : Chazali H. Situmorang (Sang Bayu – Batak melayu)

Dari pagi sampai sore beberapa panglima talam  mendampingi “Raja” untuk kampanye PilRa,  di wilayah utara, provinsi ke 20 dari kerajaan Asbunesia yang sedang mengadakan kegiatan Pemilihan raja yang pemungutan suara waktunya 50 hari lagi.

Menurut hasil survey dari beberapa lembaga survey yang telah “diamankan” sang panglima talam Alang Tungkai sebagai Kepala Staf  Panglima talam,  ( ada 8 lembaga survey), semuanya menyatakan elektabilitas sang “Raja” sebagai petahana menunjukkan kenaikan yang signifikan, dibandingkan hasil survey bulan lalu elektabilitasnya 51%, saat ini sudah naik tajam menjadi 60%. Pihak lawan (pesaing) “Raja” menurut dari 40% ke 30%.

Tetapi yang membuat panglima talam Alang pusing tujuh keliling, ada 2 lembaga survey yang tidak bisa digarap sang panglima talam menyebutkan elektablitas sang “Raja” masih stag di angka 45 % , sedangkan lawannya naik ke angka 40%. _Swing voters_ sekitar 10%.  Terkesan sedang terjadi persaingan yang ketat.

Kegalauan panglima talam beralasan, karena hasil survey ke delapan lembaga survey   memang hasil rekayasa yang diperintahkan sang panglima kepada pemilik lembaga survey,  tentu dengan siraman duit yang angkanya membuat biji mata keluar  dari tempatnya.

Yang juga membuat panglima talam semakin stress adalah pada waktu kampanye pagi tadi sampai dua putaran siang hari, sang “Raja” sangat berapi-api menyampaikan keberhasilan pembangunan  selama menjadi “Raja” 4 tahun.  Kenapa _stress_?. Rupanya “Raja” dalam menyampaikan hasil pembangunan dan angka-angka keberhasilannya hampir semuanya datanya keliru.

Bahkan hal yang sama yang disampaikan “Raja”  pada pagi hari di lokasi yang berbeda dengan kampanye yang disampaikan siang harinya, materi yang disampaikan sama tetapi dengan angka berbeda. Para panglima talam pada _stress_. Termasuk panglima talam   Alang Tungkai, si Alang berpikir keras apa gerangan yang terjadi pada “Raja”.  Apakah sang “Raja” sedang mengalami lupa ingatan, atau penyakit lainnya yang mengganggu memorinya.

Malam hari, setelah selesai makan malam dengan gulai asam ikan baung yang sedap dibuat istrinya yang memang jago masak, panglima talam Alang Tungkai masuk keruang kerjanya.  Dia panasaran apa gerangan yang terjadi pada “Raja”.

Melalui internet, Alang  bertanya kepada Mbah Google yang maha tahu semua hal. Hasil _browsing_ nya, diketemukan istilah Amnesia. Mbah Google dalam Alodoc, menyebutkan bahwa Amnesia atau hilang ingatan adalah gangguan yang menyebabkan seseorang tidak bisa mengingat informasi, pengalaman, atau kejadian yang pernah dialami. Selain itu, penderita amnesia juga akan kesulitan dalam membentuk ingatan baru.

Panglima talam Alang, membaca lebih lanjut, dengan panasaran mencari apa saja gajala Amnesia dan penyebabnya. Berdasarkan gejala yang ditimbulkan, amnesia dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu:

  • *Amnesia* *anterograde* . Saat mengalami kondisi ini, penderita sulit membentuk ingatan baru. Gangguan ini dapat bersifat sementara atau permanen.
  • *Amnesia* *retrograde*, yaitu jenis amnesia yang menyebabkan penderitanya tidak bisa mengingat informasi atau kejadian yang lalu. Gangguan ini cenderung mempengaruhi ingatan yang baru terbentuk. Sedangkan pada ingatan lama, seperti kenangan masa kecil, gangguannya muncul lebih lambat.

Pada beberapa kasus, penderita amnesia juga dapat mengalami ingatan palsu (konfabulasi), yaitu suatu ingatan yang terbentuk karena karangan atau berdasarkan  kejadian sebenarnya, namun ditempatkan dalam waktu yang salah. Gejala lainnya dari amnesia adalah disorientasi atau kebingungan.

Ternyata juga, penyebab dan pemicu Amnesia bermacam-macam. Antara lain  dapat terjadi karena kerusakan pada bagian otak yang membentuk sistem limbik yang berperan dalam mengatur ingatan dan emosi seseorang. Beberapa kondisi yang dapat memicu terjadinya amnesia, di antaranya adalah:

  • Cedera pada kepala, misalnya akibat kecelakaan.
  • Stroke.
  • Kejang.
  • Ensefalitis atau peradangan otak.
  • Tumor otak.
  • Penyakit Alzheimer.
  • Ketergantungan minuman keras dalam jangka waktu yang lama.
  • Konsumsi obat-obatan tertentu, seperti  _benzodiazepine_ dan obat penenang
  • Penurunan pasokan oksigen pada otak (_anoxia_).
  • Trauma psikologis, misalnya akibat pelecehan seksual.

Dari berbagai pemicu tersebut,  lamat-lamat panglima talam Alang, kembali terbayang dalam ingatanya bahwa 10 tahun yang lalu, “Raja” sempat mengalamai kecelakaan jatuh dari kuda saat berburu dengan menunggang kuda. “Raja” jatuh dan kepalanya membentur  dahan kayu  cukup keras. Sempat beberapa saat pingsan, dan saat panglima talam Alang sampai menghampiri, “Raja” sudah kembali siuman. Dan mengeluh kepalanya pusing.

Setelah diperiksa dokter Istana, dan dberi obat, pusingnya hilang, dan “Raja” sepertinya sudah pulih. Walaupun tidak meneruskan perburuannya.

Alang berfikir, jangan-jangan “Raja” mengalami Amnesia  karena cedera kepala 10 tahun yang lalu.

Semalaman panglima talam Alang Tungkai tidak bisa tidur. Apalagi istrinya sudah tidur mengorok, Alang semakin stress dan gelisah. Dalam bayangannya, jika “Raja” benar-benar hilang ingatan hancuuurlah para panglima talam. Tidak ada rakyat yang mau memilih “Raja” yang lupa ingatan. Rakyat akan berkomentar lebih baik memilih “raja” yang dungu dari pada lupa ingatan.

Pagi esok harinya, terburu-buru panglima talam Alang bergegas ke istana. Tidak sempat sarapan yang sudah di siapkan sang istri berupa  nasi goreng, sambal terasi dan telur dadar kesukaannya yang masih hangat.

Di Istana, Alang mengajak para panglima talam lainnya, yaitu PT (panglima talam), Aleng, Ogek, Buyung, Soleh, yang tergopoh-gopoh datang dipanggil PT Alang, yang juga  Kepala Staf Panglima Talam yang disegani sekaligus ditakuti. Tidak lupa juga Dokter Kerajaan Asbunesia dipanggil serta.

Panglima talam Alang, menyampaikan kejadian kampanye kemarin tentang orasi “Raja” yang datanya banyak bohongnya. Tidak konsisten antara satu lokasi dengan lokasi lainnya. Sepertinya “Raja” lupa atas ucapannya yang berbeda.

Ada 2 orang panglima talam lainnya yang ikut “Raja” yaitu PT. Ogek, dan buyung  membenarkan apa yang disampaikan oleh PT.Alang. Alang meminta kepada dokter kerajaan menjelaskan tentang Amnesia secara medis. Dijelaskan bahwa mereka yang terkena Amnesia tidak menyadari atas kejadian yang menimpa dirinya itu. Karena terkadang Amnesia bisa bersifat temporary. Bisa hilang timbul, begitu bahasa awamnya.

Para panglima talam berpikir keras mencari solusi atas persoalan tersebut. Jangan sampai hal ini diketahui oleh media. Khususnya media sosial. Kalau media mainstream dan media cetak dan elektronik sudah bisa dikontrol.  Zaman IT yang canggih saat ini medsos sangat ampuh dan cepat nyebar menjadi viral.

Dalam Rapatalas ( rapat panglima talam terbatas), tersebut disepakati harus dicari jalan keluar, untuk meredam atau mengatasinya. Jika tidak dan diketahui pihak lawan (pesaing”Raja”),  maka tentu menjadi amunisi  empuk yang ditembakkan ke kubu Petahana. Padahal seminggu yang lalu, panglima talam Alang sudah mengumumkan strategi kampanye pola menyerang  yang di sebut dengan istilah Libas Total.

Setelah melalui diskusi yang panjang dan alot, disepakati rumusan kesepakatan rapat adalah *pertama*; kondisi Amnesia yang dialami “Raja” harus disampaikan oleh 1 orang utusan dari para panglima talam. Supaya “Raja” tidak tersinggung karena banyak yang tahu.  *Kedua*; “Raja” ada kemungkinan tidak mengakui dan tidak menerima informasi tersebut. Karena boleh jadi saat disampaikan, sang “Raja” tidak sedang lupa ingatan. Sehingga akan menjadi blunder, dan ada resiko di pecat “Raja”.

Kedua poin tersebut, telah dirumuskan bersama, dan ditanda tangani semua panglima talam yang hadir.

Tibalah saat yang paling penting dalam Rapatalas tersebut, yaitu menentukan siapa yang disepakti menghadap “raja” untuk menyampaikan informasi tentang Amnesia yang mendera “Raja.

Mekanisme penetapan yang ditunjuk, dilakukan dengan pemungutan suara secara tertutup, dengan menulis nama di kertas, siapa yang dipilih. Suara terbanyak, dia lah yang menghadap “Raja”. Tidak ada diberi waktu jedah untuk lobby. Langsung saja diberikan kertas, tulis nama di lipat, dikumpulkan dan dibuka kembali  disaksikan bersama-sama.

Ternyata semua panglima talam terdiam. Bisu seribu bahasa. Hasilnya diluar dugaan semua panglima. Dibuka lipatan kertas, isinya tidak ada tulisan satu namapun. Alias kertas kosong.  Setelah senyap berapa lama, akhirnya para panglima talam tertawa terbahak-bahak menyadari kedunguan mereka.

Sampai cerita ini dituturkan dalam tulisan ini, tidak dapat berita  selanjutnya apa yang terjadi paska Rapatalas tersebut. Apakah sang “Raja” terpilih jadi “Raja” kembali, atau pesaingnya yang menang, atau karena “Raja” mengalami Amensia diputuskan dalam Rapat Dewan Rakyat Kerajaan Asbunesia,  sang “Raja” di rawat di rumah sakit Lupa Ingatan.  Mari kita tunggu cerita berikutnya.

Cibubur, 7 Februari 2019

Cerita fiksi, Silahkan share jika bermanfaat.

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top