General Issue

PENTAS DEBAT KEDUA CAPRES, ANTARA KEJUJURAN DAN KETAKUTAN

chazali s penulis buku

Oleh : Dr.  Chazali H. Situmorang, Pemerhati Kebijakan Publik , Dosen Administrasi Publik FISIP UNAS. 

Untuk membahas debat putaran kedua Capres 01, dan 02, tanggal 17 Februari 2019 yang baru lalu,  saya mencoba mengkajinya dari sudut berbeda dengan pengamat kebijakan publik lainnya.

Sudah banyak dibahas terkait, gaya, bahasa tubuh, gerak, tangan, semantik yang digunakan sampai  dengan suasana hati kedua kandidat Capres tersebut yang terlihat dari mimik wajah dan gerakan kepala masing-masing.

Sampai dengan cara memegang kuping Pak Jokowi, dan Pak Prabowo mengusap-ngusap kacamata juga dibahas oleh mereka yang ahlinya.

Yang hebatnya, dengan pakaian Pak Prabowo  lengkap berjas resmi, di analisis menggambarkan sudah tidak sabar untuk menjadi Presiden. Luar biasa, semuanya habis dikuliti.

Bahkan kita menonton pertengkaran kedua tim sukses 01 dan 02, di TVOne, hanya persoalan Pak Prabowo bertanya ulang soal unicorn kepada Jokowi, di _bully_  oleh pihak tim sukses Paslon 01, seolah-olah  Pak Prabowo tidak paham. Hal tersebut menyebabkan lawan bicara dari Paslon 02 tersinggung dan membantah pandangan tersebut.

Hal-hal seperti itu senangnya media TV  menayangkannya, memberikan tontonan yang menurut saya sebagai penonton berpendapat  “merupakan suatu yang   memalukan”.

Tolonglah melalui artikel ini, jika pihak awak TVOne atau TV lainnya, mengundang tim kampanye  untuk berdialog, figurnya yang bermutu, dan enak ditonton. Jika tidak, kita seperti memindahkan lapao tuak ke pentas TV. Yang kita tonton adegan mabok-mabokan, dengan jurus silat lidah cina  mabok.

Mari kita renungkan dengan jernih, substansi ataupun jalan pikiran masing-masing Capres dalam membangun bangsa ini kedepan.

Kita mulai dari pandangan Pak JK dalam memberikan penilaiannya. . Pak JK mengatakan: “Pak Jokowi jelas dalam debat ini lebih menguasai masalah, lebih baik,” kata JK, sapaan  dia, di rumah dinas, Jalan Diponegoro, Jakarta, Minggu (17/2/2019).

Pak JK melihat  Pak Jokowi lebih punya banyak pengalaman dalam tema debat kali ini, yakni tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam dan lingkungan hidup.

Pak Jokowi di sini secara umum lebih baik dari Pak Prabowo karena pengalaman.  Beliau menjawab dari pengalaman yang ada dari apa yang telah dilaksanakan sehingga lebih faktual,” kata Pak JK.

Dalam debat kali ini, Pak JK melihat poin plus  Pak Prabowo. “Saya juga mau menghargai Pak Prabowo karena kejujurannya.  Artinya, kalau itu dianggap baik dia akan puji Pak Jokowi termasuk pernyataan terakhirnya,” kata dia.

Ungkapan Pak JK menjadi menarik. Memposisikan  Pak Jokowi menguasai persoalan karena pengalaman dalam pemerintahan. Tetapi juga menghargai kejujuran  Pak Prabowo, memberikan apresiasi kepada Pak Jokowi dan tidak membantah sesuatu yang memang benar. Sambil mengklarifikasinya, terkait penguasaan atas lahan HGU di Aceh tengah dan Kalimantan Timur.

Jawaban Pak Prabowo mengagetkan semua penonton. Beliau tidak ,tersinggung karena menyinggung pribadi ( walaupun Pak Jokowi tidak mengakuinya),  tetapi essensi dari itu semua, adalah akibat dari ketidak pahaman Pak Jokowi atau tidak bisa membedakan antara sertifikat berupa SHM (Sertifikat Hak Milik), dengan HGU ( Hak Guna Usaha ) yang dipegang  Pak Prabowo.

Soal HGU, orang-orang sekitar Pak Jokowi, dan pendukung berat Pak Jokowi baik aseng ataupun pribumi juga mengantongi HGU berjuta hektar. Jadi tidak nyambung antara sertifikat SHM yang dibagikan dengan HGU yang hanya dikelola, tetapi kepemilikannya tetap negara. Apakah memang karena tidak mengerti, atau ingin menohok pribadi Pak Prabowo, hanya Allah yang tahu.

Tetapi hal seperti ini harus menjadi perhatian Bawaslu dan KPU, termasuk juga akurasi penyampaian data dan fakta. Jika tidak, jangan sampai ada Paslon yang meninggalkan  area Debat, karena tidak fairnya KPU sebagai penyelenggara.

Terkait penilaian Pak JK terhadap Pak Jokowi, sebenarnya masih menggantung. . Seharusnya beliau berani berkata bahwa data-data yang disampaikan Pak Jokowi itu ada yang tidak benar alias keliru. Pak JK  harus membantu mengklarifikasi data tersebut. Jangan dibiarkan di goreng di media cetak dan elektronik yang dapat menimbulkan keresahan dan kegelisahan Petahana. .

Ketidak akurat data yang disampaikan seorang Presiden sangat berdampak terhadap peradaban bangsa ini. Bayangkan  mungkin ratusan juta yang menonton TV di seluruh pelosok tanah air.  Capres 01 yang juga Presiden RI, menyampaikan  suatu kemajuan pembangunan yang keliru datanya. Antara lain,  import  jagung hanya 180 ribu ton, nyatanya lebih banyak,  beras surplus 3 juta ton, data yang beredar lebih besar lagi. Tetapi masih mengimport.

Tiga  tahun terakhir tidak ada kebakaran hutan, nyatanya masih terjadi kebakaran hutan. Lobang-lobang besar bekas galian tambang dibuat kolam ikan, tapi belum ada ditunjukkan dimana.  191 ribu km jalan desa sudah dibangun dengan dana desa sebesar 182 triliun. Fantastis, sepertinya  Presiden  yang lain belum membangunnya.  Tidak ada konflik lahan dalam pembebasan tanah untuk jalan tol. Karena yang dibayarkan  ganti untung. Kenyataannya banyak konflik yang terjadi.

Ungkapan Pak Presiden sangat memukau dalam forum Debat Capres yang terhormat tersebut. Rakyat pasti percaya, terutama rakyat kecil yang kurang  terdidik, dan masih peradaban paternalisitik.

Karena  rakyat percaya dan dengan dorongan para RT, RW, Kepala Desa, Kepling, Lurah, dan  perangkat desa lainnya yang dikondisikan, ,  terbangun prakondisi yang memacu dan memicu alam bawah sadar rakyat untuk memilih kembali Pak Jokowi.

Walaupun ketidak benaran data  ( medsos menyebut kebohongan), sudah menyebar dan menjadi viral di kalangan netizen dan media sosial, tetapi tidak muncul di media cetak atau media TV.  Kalaupun muncul di framing  sedemikian rupa sehingga terkesan bukan suatu kebohongan.  Disamping itu  untuk sampai ke rakyat-rakyat pelosok tidaklah mudah.

Maka itu penilaian Pak JK, seharusnya masih koma, tetapi kalau sedikit saja ada “kejujuran” Pak JK bisa juga mengungkapkan, mungkin dengan bahasa bersayap atau diperhalus tentang ketidak benaran data tersebut. Disitulah sebenarnya kenegarawanan Pak JK mendapatkan tempatnya.

Saya yakin bukan Pak JK tidak berani. Buktinya soal LRT Elevated Jabodetabek, , sangat pedas kritikannya, mulai dari kebijakan menentukan model elevated, ( bukan di atas tanah) yang mengakibatkan memerlukan biaya Rp. 500 miliat/KM.

“Tidak takut pada siapapun, hanya takut pada Allah”

Itu ungkapan pamungkas  Pak Jokowi dalam debat tersebut. Suatu ungkapan yang berani dan menggetarkan hati bagi mereka yang berIman.

Bagi Pak Jokowi, ini modal sosial yang luar biasa. Tetapi anehnya tidak menjadi trending topik bagi warganet.

Ungkapan tersebut sangat kita hargai. Suatu pengakuan dan kepasrahan hanya Allah yang ditakuti di dunia dan akhirat. Itu benar, dan itu  ajaran Islam.  Allah itu maha besar, maha kuasa, tidak ada selain Allah yang maha besar  dan maha kuasa.

Tapi maaf Pak Jokowi, Capres 01, yang terlihat dilakukan dalam masa kampanye ini, banyak langkah dan kebijakan yang tidak menggambarkan takutnya bapak pada Allah SWT.

Rakyat melihat, dan tertanya-tanya apakah   Pak Jokowi takut kalah dalam pemilihan Presiden 17 April 2019?.  Dengan  begitu gencarnya meyakinkan rakyat atas upaya pembangunan yang sudah dilakukan, bahkan dengan menggunakan data yang keliru. . Mungkin  takut dibilang tidak berbuat, sehingga rakyat tidak memilih bapak.

Demikian juga apa karena khawatir atau takut dibilang tidak berpihak pada rakyat kecil. Maka  bagi-bagi sembako, bagi-bagi dana PKH, bagi-bagi amplop berisi uang, meluncurkan secara masif bantuan pangan non tunai. Datang ke Masjid bagi-bagi sertifikat tanah dalam masa kampanye. Kenapa tidak cukup Menteri terkait saja.  Sehingga Presiden dapat fokus menuntaskan  pekerjaan yang belum selesai sesuai dengan amanat Nawa Cita?.

Rakyat pasti tahulah, walaupun Menteri yang turun, itu semua atas kebijakan dan pengendalian Presiden.

Bapak rajin jadi Imam Sholat di Masjid, mundur satu shaf, untuk  memudahkan diliput kamera TV dan wartawan elektronik dan cetak.  Apakah karena khawatir rakyat tidak tahu bahwa Bapak mampu menjadi Imam sholat?. Kenapa tidak KH.Ma’ruf Amin yang ditugaskan. Beliau seorang Ulama, bacaannya bagus, sudah lebih sepuh,  dan Ketua MUI.

Banyak lagi langkah dan kegiatan serta kebijakan Bapak sebagai  Presiden sekaligus petahana, yang dapat menimbulkan opini  “takut tidak dipilih  rakyat”.  Dikhawatirkan “ketakutan” Pak  Jokowi tersebut melebihi  ketakutan kepada Allah SWT.

Semoga  dugaan ketakutan  Pak Jokowi yang diutarakan diatas, tidak benar, dan sejatinya Pak Jokowi hanya takut pada Allah SWT. Mudah-mudahan.

Bagi Pak Prabowo, dengan  kejujuran yang disampaikan Pak JK  Wakil  Presiden RI,  terus dipertahankan. Bapak tidak perlu khawatir. Kejujuran itu suatu perilaku yang disenangi, disayangi,  dan akan mendapat perlindungan Allah SWT.

Dalam perjalanan  sejarah peradaban manusia, kejujuran itu selalu dapat mengalahkan kebohongan. Walaupun kebohongan itu  bagian dari strategi perang total.

Kejujuran adalah modal utama  untuk menjadi pemimpin yang kuat, bermartabat dan berwibawa. Segera susun barisan, bukan hanya kerumunan.

Masih ada debat  3 putaran lagi. Mari kita cegah debat berikutnya   tidak lagi me0njadi tontonan kebohongan episode ketiga. Ada adagium, bahwa untuk menutupi suatu kebohongan, diperlukan kebohongan lainnya, agar kebohongan sebelumnya tidak terbongkar. . Mari kita menggunakan akal sehat. Amiin.

Cibubur, 19 Februari 2029

Silahkan di share jika bermanfaat.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top