General Issue

PEMBERONTAKAN PAPUA : SIAPA YANG TAKUT?

images

Oleh : Dr. Chazali H. Situmorang, (Dosen FISIP UNAS)

Setiap gerakan bersenjata  di Papua,  Pemerintah selalu menyebutnya dengan istilah Kelompok Kriminal Bersenjata.  Tidak pernah disebutkan gerakan separatis, pemberontak atau istilah yang berkaitan untuk memisahkan diri dari NKRI. Padahal kita baca diberbagai media tentang unjuk rasa masyarakat Papua yang ingin merdeka, dan nyanyian-nyanyian bintang kejora yang dinyanyikan oleh mahasiswa di Jayapura, atau adanya video yang viral pembakaran bendea merah putih di Papua dan menggantikannya dengan bendera Bintang Kejora.

Di belahan lain dari bumi Indonesia, banyak kejadian yang mirip di Papua seperti di Poso, dengan label yang berbeda yaitu  Teroris atau kelompok Jihadis Santoso CS atau Abu Wardah.  Kita membaca di media Densos 88, menggerebek adanya teroris di Solo, Bogor, Jakarta, dan tempat lainnya, terjadi tembak-menembak satu dua letusan, lantar ada yang tewas. Mereka disebut teroris, kelompok fundamentalis dan dikaitkan dengan aliran dan ajaran agama tertentu.

Untuk adanya payung hukum  yang jelas atas penumpasan berbagai kelompok yang disebut Teroris tersebut, maka telah disyahkan UU sebagai penyempurnaan UU yang ada yang dirasakan tidak cukup sempurna sebagai payung hukum untuk pemberantasan terorisme.

UU Nomor 5 Tahun 2018  adalah tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 20002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-Undang.

Pada Pasal 1 ayat 2), yang dimaksud _Terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan/atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, Iingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan._

Penyeragamaan Nomenklatur

Penyerangan bersenjata di Distrik Mbua Kabupaten Nduga Papua oleh  Kelompok Kriminal Bersenjata dengan mendatangi kamp PT Istaka Karya dan memaksa seluruh 25 karyawan keluar. selanjutnya digiring menuju kali Karunggame dalam kondisi tangan terikat dan dikawal sekitar 50 orang KKB bersenjata campuran standar militer. Selanjutannya mereka membunuh belasan pekerja tersebut, dan ada sabagian yang berhasil melarikan diri.

Pihak resmi TNI/ Polisi sudah langsung menyebutkan mereka yang bersenjata sebagai  Kelompok Kriminal Bersenjata, bukan Teroris, padahal  yang mereka lakukan sudah memenuhi kriteria disebut sebagai Teroris, bahkan pemberontak karena menyampaikan pesan untuk ingin memisahkan dari NKRI.

Seharusnya Pemerintah menyebut mereka dengan Kelompok Teroris dan Pemberontak Bersenjata (KTPB), bukan Kelompok Kriminal Bersenjata, seolah-olah ingin mengecilkan kejadian yang sangat luar biasa sadisnya. Bahkan sampai menembak Helikopter TNI dan ada prajurit TNI yang tewas.

Secara kronologis kejadian penyerangan tersebut, termasuk katagori sadis dan kejam, dan dapat menganggu integritas dan kredibilitas Pemerintah Pusat jika tidak dilakukan langkah-langkah penanganan yang komprehensif, tegas, dan tuntas. Berani tidak sekedar tidak takut untuk meneruskan pembangunan infrastruktur yang beresiko akan terulang penyerangan, tetapi juga berani menyatakan bahwa gerakan tersebut adalah separatis dan perlu dipadamkan dengan tuntas, tidak perlu dikaitkan dengan situasi politik yang memperhitungkan untung rugi para mereka yang sedang mengelola kekuasaan.

Kentalnya  pertimbangan politik pemerintah, akan merusak moral semangat militansi prajurit dan polisi yang berada di _front liner_, dan jika tidak ada langkah-langkah komando yang tegas dan jelas, mereka yang akan jadi korban.

Indonesia punya pengalaman sukses dalam mengatasi penculikan orang asing oleh pemberontak bersenjata Papua pada tahun 1996 yang terkenal dengan Peristiwa Mapenduma.

Kronologis Peristiwa Mapenduma

Senin 8 Januari 1996 menjadi mimpi buruk untuk 12 peneliti Tim Lorentz yang sedang mengumpulkan data di Mapenduma, Papua. Ratusan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Daniel Yudas Kogoya menculik mereka dari base camp.

Komandan OPM Kelly Kwalik berusaha menukar 12 sandera itu dengan kemerdekaan Papua. Karena melibatkan warga negara asing, peristiwa ini jadi sorotan internasional. Selama dalam penyanderaan, para sandera digiring blusukan ke belantara Papua. Mereka tak mendapat cukup makanan, sehingga beberapa orang sakit

Mabes TNI menggelar satgas untuk membebaskan sandera di Mapenduma. Komandan Jenderal Kopassus saat itu Brigjen Prabowo Subianto ditunjuk menjadi komandan. Tim Kopassus yang dikerahkan berasal dari Grup 5 Antiteror yang berseragam hitam-hitam.

Selain itu ada pasukan Batalyon Lintas Udara Kostrad 330 dan pasukan penjejak yang terdiri dari putra-putra Irian milik Kodam Cendrawasih. Total pasukan yang dikerahkan mencapai 600 orang.

Tapi sesuai permintaan dunia internasional, Prabowo mempersilakan Tim International Committee of the Red Cross (palang merah internasional), melakukan perundingan. Awalnya Kelly Kwalik menunjukkan itikad baik. Mereka berniat membebaskan beberapa sandera yang sakit, termasuk Martha Klein yang sedang hamil.

Namun saat detik-detik pelepasan sandera, tiba-tiba Kelly Kwalik berubah. Dia berpidato dengan keras. “Saya minta ubi harus dapat ubi, bukan minta ubi dikasih ketela.” Artinya jelas, kemerdekaan harga mutlak untuk Kelly. Para sandera dan tim ICRC lemas, mereka sadar perundingan yang berliku ini menempuh jalan buntu.

Maka Brigjen Prabowo langsung menggerakkan pasukan begitu mendengar lampu hijau. Pengintaian lewat udara dilakukan terus menerus. Sebuah pesawat tanpa awak yang bisa mendeteksi panas tubuh ikut digunakan. Bukan perkara mudah melacak jejak sandera di tengah belantara Papua. Tapi TNI terus menekan mereka.

OPM yang terdesak terus bergerak masuk hutan. Dalam keadaan panik, tanggal 15 Mei OPM membunuh dua anggota Tim Lorentz, Navy dan Matheis dibantai dengan kampak. Rupanya mereka berniat membunuh seluruh sandera yang berasal dari Indonesia dan hanya menyandera warga negara asing. Dengan histeris sisa sandera berlari menyelamatkan diri.

Kejadian selanjutnya sangat dramatis. Dalam keadaan putus asa mereka bertemu pasukan Linud 330 Kostrad yang telah mencoba mengikuti mereka berhari-hari. Pasukan pimpinan Kapten Agus Rochim tersebut menemukan permen dan pembalut wanita yang tercecer di hutan. Dua benda tersebut menambah keyakinan mereka tak jauh lagi dari sandera. “Kami TNI Batalyon 330,” teriak salah satu anggota pasukan saat bertemu para sandera.

Ketegangan para sandera itu berubah menjadi rasa lega. Mereka telah diselamatkan oleh pasukan elite baret hijau itu.Kapten Agus memerintahkan pasukannya membuat parameter dan melindungi para sandera yang selamat. Pasukan Yon 330 berkali-kali menembakan senjata untuk mencegah OPM mendekat.

Namun dia memutuskan untuk tak melakukan pengejaran atau melakukan pencarian pada dua sandera yang dibunuh. Alasannya jelas, kekuatan pasukan OPM tak diketahui. Mereka juga pasti akan berusaha keras merebut sandera yang kini berada di tangan TNI.

“Pasukan saya cuma 25 orang. Harus dibagi dua satu menjaga di seberang sungai, satu lagi melindungi para sandera,” kata Agus.

 Tim berkekuatan itu bermalam di hutan semalaman. Cuaca buruk dan kabut menyebabkan jarak pandang hanya lima meter di dalam hutan. Kapten Agus terus berusaha memanggil bala bantuan.

“Kami masih dalam keadaan tegang. Baik mantan sandera maupun Batalyon 330 tetap bersiaga menghadapi kemungkinan dari GPK-OPM yang bernapsu merebut sandera,” kata Adinda Arimbi Saraswati, salah seorang sandera mengisahkan ketegangan malam itu.

Pengalaman Adinda itu ditulis dalam buku Sandera, 130 Hari terperangkap di Mapenduma yang diterbitkan Sinar Harapan tahun 1997.

Untunglah tak ada serangan malam itu. Keesokan pagi, personel tambahan Tim Kopassus datang. Mereka bertugas mengamankan lokasi dan mengevakuasi jenazah Navy dan Matheis. Seluruh sandera pun dievakuasi dengan helikopter.

Setelah 130 hari disandera, para peneliti bisa menghirup napas lega tanggal 16 Mei 1996. Mereka bisa pulang ke rumah dengan selamat. Pasukan TNI mendapat pujian dari dari dunia internasional atas prestasi mereka.

Peristiwa Mapenduma 22 tahun yang lalu, tentu masih berbekas di benak kita, dan peristiwa berulang kembali awal Desember 2018, dengan kronologis kejadian yang tidak kalah dramatisnya.

Kronoligis Peristiwa Nduga

Berdasarkan penuturan Jimmi Aritonang, pekerja PT Istaka Karya memutuskan untuk libur pada Sabtu (1/12/2018) karena ada upacara peringatan yang diklaim sebagai HUT Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM).

Sekitar pukul 15.00 WIT, KKB ( Kelompok Teroris dan Pemberotak  Bersenjata , penulis) kemudian mendatangi kamp PT Istaka Karya dan memaksa seluruh 25 karyawan keluar.

“Sekira pukul 15.00 WIT, kelompok KKB (KTPB)  mendatangai Kamp PT Istaka Karya dan memaksa seluruh karyawan berjumlah 25 orang keluar, selanjutnya digiring menuju kali Karunggame dalam kondisi tangan terikat dan dikawal sekitar 50 orang KKB (KTPB)  bersenjata campuran standar militer,” tutur Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhamad Aidi saat menceritakan kembali keterangan yang diperoleh dari Jimmi pada Kompas.com, Rabu (5/12/2018).

Kemudian pada Minggu (2/12/2018), 25 pekerja PT Istaka Karya digiring menuju Puncak Kabo dalam keadaan tangan terikat.

Tak lama kemudian para KKB (KTPB)  menari-nari hingga akhirnya menembaki pekeja PT Istaka Karya secara sadis. Sebagian pekerja dilaporkan tertembak mati di tempat dan sebagian pura-pura mati.

Para KKB (KTPB)  kemudian melanjutkan perjalanan menuju Puncak Kabo dan meninggalkan jenazah pekerja PT Istaka Karya begitu saja. Sebelas pekerja yang pura-pura mati kemudian mencoba melarikan diri. Sayang upaya mereka terlihat KKB dan dikejar.

Lima pekerja tertangkap dan dibunuh KKB (KTPB)  enam orang melarikan diri ke arah Mbua, sementara dua di antaranya belum ditemukan, dan empat orang selamat, termasuk Jimmi Aritonang. Korban selamat pun diamankan oleh anggota TNI di Pos Yonif 744/Yalet di Mbua.

Seorang tentara tewas di tembak KKB

Penyerangan KKB (KTPB) ternyata berlanjut hingga Senin (3/12/2018) pagi. Sekitar pukul 15.00 WIB, KKB menyerang Pos TNI 755/Yalet yang menjadi tempat Jimmi Aritonang bersama kawan lainnya diamankan.

Serangan diawali dengan cara melempar batu ke arah pos hingga seroang anggota Yonif 755/Yalet, Serda Handoko membuka jendela. Sayang Serda Handoko kemudian ditembak KKB (KTPB) dan meninggal dunia.

“Saat itu anggota di pos membalas tembakan sehingga terjadi kontak tembak dari jam 05.00 WIT hingga 21.00 WIT. Karena situasi tidak berimbang dan kondisi medan yang tidak menguntungkan, maka pada 4 Desember sekitar pukul 01.00 WIT, Danpos memutuskan untuk mundur mencari medan perlindungan yang lebih menguntungkan. Saat itulah salah seorang anggota, Pratu Sugeng, tertembak di lengan,” ungkap Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhamad Aidi kepada Kompas.com.

Helikopter TNI ditembaki KKB

Pada Rabu (5/12/2018) siang, helikopter TNI yang akan melakukan evakuasi jenazah Serda Handoko diserang oleh KKB di Pos TNI PAM Rawan/755 Yalet di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Saat diserang KKB (KTPB) , baling-baling helikopter terkena tembakan.

Kapolda Papua Irjen Pol Martuani Sormin Siregar menjelaskan tembakan berasal dari Puncak Kabo. Tim Nanggala pun melakukan tembakan balasan.

“Karena ada tembakan dari arah Puncak Kabo, maka Tim Nanggala melakukan tembakan balasan dari helikopter. Ada satu helikopter jenis Bell yang baling-balingnya terkena tembakan dari kelompok KKB (KTPB) ,” kata Siregar ketika dikonfirmasi Kompas.com melalui telepon selulernya.

Namun  akhirnya jenazah Serda Handoko berhasil dievakuasi menuju Kenyam, Ibukota Kabupaten Nduga. Selanjutnya jenazah Serda Handoko diterbangkan menuju Timika, Kabupaten Mimika.

Dari peristiwa Nduga, memang posisi TNI dan Polisi menjadi bulan-bulanan  pemberontak. Terkesan TNI dan Polisi bersifat defensif, dan tidak menguasai wilayah Kabupaten Nguda secara maksimal.

Mengulangi strategi operasi seperti peristiwa Mapenduma 22 tahun yang lalu, perlu dilakukan dengan menurunkan pasukan Kostrad dan Kopassus dan Densus 88,  untuk mengejar dan menghabisi tuntas para pemberontak dan teroris di Papua.

Langkah-langkah pembangunan infrastruktur yang dilakukan Pemerintah tidak boleh dengan modal nekad saja, tetapi mobilisasi operasi militer harus juga dikedepankan, agar mereka yang bekerja terjamin keselamatannya. Apalagi jika ada kepentingan negara asing yang meremote para pemberontak bersenjata untuk mengendurkan program pembangunan infrastruktur yang dilakukan.

Sudah saatnya Offensif

Pemerintah sudah menetapkan untuk tersambugnya trans papua dalam masa periode Kepemimpinan Jokowi. Semangat tersebut sering menjadi icon atas kepedulain Jokowi terhadap rakyat Papua. Ada kesan Pemerintah sebelumnya tidak maksimal dalam membangun Papua.

Ribuan KM telah dibangun, ribuan pekerja menyabung nyawa untuk membangun jalan. Hutan yang tidak ada ujungnya, keamanan yang rawan, dan sulitnya medan dan jaringan komunikasi merupakan tantangan yang sangat berat bagi mereka yang bekerja. Termasuk juga TNI dan Polisi yang mengawal dan menjaga keamanan di wilayah setempat.

Keputusan politik pemerintah haruslah dibarengi dengan mengoptimalkan pengerahan kemampuan tempur TNI dan Densus 88, yang secara offensif mengepung, menyerang dan menangkap para pemberontak  yang dengan teknologi canggih pasti tahu dimana konsentrasi pertahanan mereka dengan mengukur suhu tubuh melalui sistem satelit. .  Upaya tersebut harus dilakukan secara terus-menerus walaupun terkesan seolah-olah aman. Karena situasinya ibarat api dalam sekam.

Tidak ada gunanya  TNI/Polri  menunjukkan kekuatannya dengan parade senjata ditengah kota  dengan 40 ribu pasukan dilapangan Monas beberapa waktu yang lalu, dengan alasan apel kesiapan  Natal, tahun baru, Pilpres dan berbagai peristiwa politik lainnya. Disisi lain, di daerah pedalaman di Papua, banyak rakyat dan prajurit yang gugur di bantai pemberontak.

Kehebatan Densus 88 mengendus di balik-balik gang sempit,  menemukan para teroris, menembaknya, memenjarakannya di Mako Brimob yang jumlah bertambah banyak terus, perlu diuji nyali juga untuk menghadapi teroris dan pemberontak di Papua dengan senjata berat dan otomatis yang canggih

Pembangunan Manusia Papua

Yang paling berat membangun Papua, adalah membangun manusianya. Dengan pendidikan yang masih rendah, kesehatan masyarakat yang masih rendah, gizi buruk, pola hidup dan kebiasaan yang masih perlu dirrubah masih merupakan skala prioritas pembangunan yang harus dilakukan pemerintah.

Pendekatan kesejahteraan harus dilakukan dengan pengawasan yang ketat atas kue pembangunan yang dialokasikan pemerintah. Redistribusi pendapatan dengan menumbuhkan sektor ekonomi lokal, keterbukaan dari isolasi, dan membangun rasa saling percaya, non diskriminatif atas suku yang sangat banyak menjadi syarat mutlak untuk membangun kedamaian antar suku.

Kurang tepat, jika pembangunan di Papua memprioritaskan infrastruktur, jika tidak secara simultan dibarengi dengan pembangunan manusia sebagai human investment. Pembangunan manusia dan kesejahteran bukanlah soal sumbu pendek, tetapi sumbu panjang. _Long term_, berkesinambungan, konsisten, dan terpadu.

Membentuk dan mengelola manusia lokal  yang cerdas sangat dipelukan, agar mereka dapat memelihara dan memnafaatkan infrastruktur yang telah dibangun. Mereka paham dan mengerti design pembangunan yang dilakukan, dan mereka akan berusaha untuk memjaga dan mempertahankannya. Jika tidak masyarakat itu sendiri yang akan menghancurkannya, karena mereka tidak merasakan manfaatnya. Apalagi jika mereka hanya akan menjadi penonton dalam eksploitasi alamnya.

Rekomendasi

 Ada 4  pilar pendekatan pembangunan di Papua yang perlu dilakukan secara serentak, adalah : Pembangunan Pertahanan/Keamanan, Pembangunan fisik/infrastruktur, Pembangunan Manusianya, dan Pembangunan kesejaheraannya. Keempat pilar pendekatan pembangunan harus pada posisi yang seimbang dan terpadu. JIKA TIDAK,  PERSOALAN PAPUA TIDAK AKAN PERNAH SELESAI, DAN AKAN MENGHABISKAN ENERGY PEMERINTAH.

Cibubur, 7 Desember 2018

Silahkan di share jika bermanfaat

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top