General Issue

KONGRES XX IAI : LANDASAN MENUJU PERUBAHAN

FOTO CHS1

OLEH : Apoteker Chazali H.Situmorang/Praktisi Apotik

 

Antiklimaks dari Kongres XX yang berakhir pada pada dini hari pukul 2 tanggal 20 April 2018 di Hotel Labersa Pekan Baru adalah terpilihnya incumbet Nurul Falah sebagai Ketua Umum PP IAI periode 2018-2022 ( 19 suara) , mengalahkan penantangnya Ketua PD IAI Jateng Jamaludin dengan 15 suara. Selisih suara yang tipis ini memberikan indikasi  bahwa pada periode kedua ini Nurul harus lebih bekerja keras untuk membuktikan dan merealisasikan visi, misi dan program dengan kontrol yang ketat dari para Ketua -Ketua PD IAI pendukung Jamal  yang jumlahnya cukup besar 15 PD IAI di Jawa maupun luar  Jawa.

Yang berhak memilih Kongres kali ini sesuai dengan Tata Tertib yang diputuskan secara alot dan   sidang sempat diskor untuk melakukan kobby agar dperoleh  konsensus. Rumusah kesepakatan adalah masing-masing PD IAI mempunyai hak  1 suara untuk memilih Ketua Umum PP IAI, , sedangkan Ketua Umum PP IAI Demisioner dan Pengurus Cabang IAI yang hadir tidak punya hak untuk memilih. Tetapi mereka semua adalah peserta dengan hak berbicara dasn bersuara.

Dengan pola 34 suara ( 34 PD), maka peta kekuatan sudah mudah dibaca dan pergesran dukungan kalaupun ada lebih mudah mendeteksinya. Sudah dapat diduga _Incumbet_  akan menang karena mengendalikan dan menguasai panggung dan sudah dikenal luas oleh PD-PD IAI ditambah lagi dengan retorika yang meyakinkan dan memukau. Maklum Nurul Falah adalah aktivis PAN dan pernah menjadi anggota DPR.

Disisi lain, suara-suara untuk menginginkan adanya perubahan, menjadi tema yang diangkat oleh Jamaludin sebagai penantang. Isu perubahan yang digagas Jamaludin, dengan menempatkan jargon Apoteker Sejahtera menarik bagi  para PD IAI dan PC-PC IAI  yang hadir dan dibuktikan dengan 15 suara PD IAI  yang diperoleh Jamaludin. Retorika Jamal tidaklah jelek-jelek amat,  merakyat dan menitik beratkan suara dan jeritan Apoteker di _grass root_.  Tetapi Jamal tidak menguasai panggung. Kalau incumbent dapat tampil sampai 3 kali, yaitu sambutan pembukaan, laporan pertanggung jawaban dan penyampaian visi dan misi, sedangkan Jamal hanya sekali saja pada saat paparan visi,mis dan program Calon Ketua Umum.

Dalam laporan pertanggung jawaban (LPJ) Ketum PP IAI, ada yang menarik dan belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu ada beberapa PD IAI memberikan penilaian Laporan PP IAI, diterima dengan catatan. Kongres – kongres sebelumnya LPJ diterima secara aklamasi. Bahkan ada pada Kongres yang lalu laporan disampaikan secara lisan tidak ada tertulis ( tidak ada bentuk buku LPJ)  juga diterima secara aklamasi. Merupakan suatu indikasi sudah mulai kritisnya para peserta atas kinerja PP IAI. Bukan tidak mungkin Kongres-Kongres  berikutnya LPJ ditolak karena kinerja yang buruk.

Proses perubahan

Dengan hadirnya banyak PC-PC IAI, dan  lebih merata, terutama dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Sulawesi, Sumatera dan beberapa dari Indonesia Timur, dan Bali Nusa tenggara, sesuai dengan Undangan PP IAI yang waktunya sangat mepet ( 5 April 2018),  telah memberikan warna dinamika yang tinggi dalam Kongres.

Perjuangan para PC IAI untuk  mendapatkan hak peserta dihadang dengan keras juga oleh beberapa PD IAI  dengan alasan biaya yang besar dan akan diakomodirnya suara cabang oleh PD IAI  yang bersangkutan. Dasar PC IAI  cukup kuat yaitu Pasal 19 ayat 2 (f), ART IAI, bahwa PC IAI  adalah peserta Kongres. Serunya para mantan presidium yang mimpin Kongres XIX 2014, menyatakan ayat 2 (f) tersebut salah ketik, seharunya tidak ada.

Supaya Kongres tidak deadlock, maka disepakati diadakan lobby antara 2 kelompok yang berseberangan. Hasil kompromi PC IAI mempunyai hak bicara dan suara, tetapi hak memilihnya diwakilkan kepada PD IAI masing-masing PC IAI. Maknanya adalah PC IAI, bersama PD IAI  dan PP IAI  punya hak berbicara dan memberikan suaranya pada semua persidangan, kecuali pada saat memilih Ketua Umum, Ketua MEDAI, dan ketua Dewas, yang memilih hanya Ketua-Ketua PD IAI.

Dalam sidang Komisi I (AD/ART), persoalan status peserta kembali meghangat. Tetapi mekanisme pengambilan keputusan sudah jelas. Jika tidak sepakat voting. Ternyata suara cabang di Komisi I yang menginginkan PC IAI  punya hak memilih kalah suara dengan yang tidak menginginkan. Perubahan hanya pada hak Ketua Umum PP IAI demisiioner, punya hak memilih.

Sidang Komisi I menegaskan bahwa hak bicara adalah hak untuk bertanya, mengeluarkan pendapat, mengajukan usulan kepada pimpinan sidang baik secara lisan maupun secara terrtulis. Hak suara yaitu  hak untuk ikut ambil bagian dalam pengambilan keputusan. Hak memilih yaitu hak untuk menentukan pilihan dalam proses pemilihan. Dalam hal ini, adalah hanya terkait pemilihan Ketua Umum PP IAI, Ketua MEDAI dan Ketua Dewas.

Produk perubahan AD/ART Kongres XX tahun  2018, merupakan tonggak sejarah, dimana PD IAI dan PC IAI punya hak yang sama sebagai peserta Kongres ke XXI tahun 2022.  Dan kewajiban PP IAI harus mengundang mereka dengan mendapatkan fasilitas yang sama, baik akomodasi, transportasi maupun konsumsi, dan perlengkapan Kongres.

Secara bertahap dan perlahan, proses perubahan pasti akan terjadi. Sudah dapat dibayangkan Kongres XXI, 4 tahun mendatang, akan lebih semarak karena selain dihadiri oleh 34 PD, juga akan dihadiri sekitar 350 – 400 PC IAI dari seluruh Kab/Kota. Pada saat itulah suara PC IAI menjadi PANGLIMA yang menentukan, dan dengan hak suara yang dimilikinya, dapat merubah AD/ART, yang menempatkan PC IAI mempunyai hak memilih pada Kongres berikutnya ( Kongres XXII, tahun 2026).  Memang jalan menapak, tetapi proses ini adalah terbaik untuk ditempuh.

Ramalan saya, pada tahun 2026 pada Kongres XXII, dengan suara PC sebagai PANGLIMA memberikan iklim demokrasi yang lebih dinamis. Diharapkan akan  muncul Ketua Umum PP IAI yang dekat dengan PC-PC IAI.  Mendengarkan suara anggota secara langsung di grass root. Memberikan manfaat yang nyata bagi sebagian besar anggota ( bukan saja segelintir elite). Berjuang dan membela profesi tanpa pamrih, dan keberpihakan pada kepentingan anggota. Saat itulah IAI bukan lagi organisasi seperti janggut yang mengakar keatas dan teregantung pada elite-elite yang punya kepentingan tertentu, tetapi seperti pohon yang rimbun mengakar kebawah dan daunnya dapat menjadi tempat berteduh.

Mudah-mudahan 8 tahun mendatang, kita masih diberikan perkenan hidup oleh Allah SWT, untuk menyaksikan generasi penerus berjuang dan menghidup-hidupkan organisasi IAI dengan semangat keikhlasan dan amanah.

Sebagai penutup  mari kita renungkan salah satu butir Sumpah Apoteker yang pernah kita lafaskan sewaktu dilantik sebagai Apoteke yaitu:

SAYA BERSUMPAH / BERJANJI AKAN MEMBAKTIKAN HIDUP SAYA GUNA KEPENTINGAN PERIKEMANUASIAAN TERUTAMA DALAM BIDANG KESEHATAN.

Cibubur, 25 April 20128

Silahkan di share jika bermanfaat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top