General Issue

JIKA TAUHID TELAH RUNTUH, AZAB ALLAH AKAN JATUH

chs-9

Oleh:  Chazali H. Situmorang ( Anggota Dewan Pakar KAHMI)

Sila pertama Pancasila adalah merupakan pengakuan Tauhid bangsa Indonesia yaitu  Ketuhanan Yang Maha Esa. Esa itu adalah kata  Tauhid yang mendapatkan tempat yang paling tinggi dalam falsafah bangsa dan negara Indonesia.

Implementasi Ketuhanan Yang Maha Esa, dalam ritual ibadahnya diyakini  dalam hati dan dilafaskan dalam ucapakan  dalam bentuk dzikir. Dzikir  Lâ Ilâha illalLâh Muhammad Rasûlullâh  sering kita dengar lantunannya. Dzikir ini terdiri dari 2 pernyataan. Yang pertama adalah *mengesakan Allah*, yakni tiada yang memiliki sifat ulûhiyah atau ketuhanan kecuali Allah, dan yang kedua adalah penegasan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.

Lâ Ilâha illalLâh Muhammad Rasûlulâh   merupakan pernyataan komitmen kita untuk merealisasikan tauhid Uluhiyah tersebut. Setiap perbuatan yang dilakukan tentu mengandung unsur “tujuannya apa”. Disitulah Allah SWT, memberikan kemampuan kita berfikir. Hanya orang yang berfikir yang mengerti tujuan hidupnya apa.

Oleh karena itu setiap gerak dan waktu kita sebagai hamba Allah, dibingkai dengan tujuan penghambaan yang dilakukan kepada Allah saja. Tidak boleh dualisme tujuan. Disitulah makna hakiki Tauhid.

Tauhid Uluhiyah ini penekanan pada unsur amal  yang dilakukan. Sehingga menjadi sulit  merealisasikannya. Apalagi berhadapan dengan situasi lingkungan dan kondisi yang tidak kondusif.

Tetapi tauhid ini merupakan standar ketundukan kita terhadap Islam sebagai agama yang dianut. Parameternya jelas, yaitu mengakui keesaan Allah, dan dalam dalam implementasinya mengacu pada juklak dan juknis yang telah dibuat oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam rangka dzikir Lâ Ilâha illalLâh Muhammad Rasûlullâh  bentuk actionnya bermacam-macam. Ada membuat kalimat tauhid tersebut dalam bentuk stiker yang dipasang dimobil. Ada yang dipasang sebagai kaligrafi di dinding masjid. Ada dalam bentuk spanduk, atribut, dan bahkan panji-panji dan bendera yang dikibarkan dalam berbagai barisan, takbir, majelis akbar dalam rangka syiar Islam. Itu semua dalam rangka dzikir tauhid dan juga manifestasi dalam mengamalkan sila pertama Pancasilan yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pembakaran bendera Tauhid

Dari kemarin media sosial sudah viral video beberapa orang anggota Banser dengan loreng yang mirip-mirip militer, berdurasi 2 menit, membakar bendera yang bertulisan kaligrafi Lâ Ilâha illalLâh Muhammad Rasûlullâh  di Garut Jawa Barat, sambil menyanyikan mars NU hubbul wathon.

Kecaman di medsos oleh para netizen selasa kemarin bermunculan. Video yang memunculkan sikap protes dengan nada kecewa, marah, ancaman bahkan ada yang mengunuskan pedangnya dan mengatakan tidak takut mati demi tauhid  La Illaha Illallah.  Tapi ada juga yang coba menenangkan dengan alasan itu adalah bendera HTI yang dibubarkan Pemerintah. Walaupun dibendera tersebut tidak ada tulisan HTI. Dan menegeaskan bendera tersebut murni kalimat Tauhid.

Yang perlu dipastikan, dan terlihat dalam video tersebut, bendera bertuliskan kalimat  Tauhid, dan tidak ada embel-embel tulisan HTI.  Fakta ini adalah suatu yang nyata. Tetapi coba dibantah oleh Yaqut :”Itu bendera HTI,” kata Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, kepada berbagai media.

Namun pembakaran bendera  yang disangkakan bendera HTI ini memicu banyak protes, karena GP Ansor dituduh membakar bendera ‘tauhid’. Dan memang nyatanya tulisannya hanya ada kalimat Tauhid. Yaitu bendera milik Umat Islam seluruh dunia.

“Saya Ketum GP Ansor, mewakili kader meminta maaf kepada seluruh masyarakat jika apa yang dilakukan kader ini memberi kegaduhan dan ketidaknyamanan. Kita minta maaf atas kegaduhan itu,” ujar Yaqut dalam jumpa pers di kantor GP Ansor, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat,  hari ini Rabu (24/2018).

Hari ini juga  ( Rabu, 24 Oktober 2018) sudah muncul di media-media cetak bahkan jadi headline. Berita ini akan bergulir terus.  Jika pihak kepolisian tidak cepat mengambil langkah pengamanan dan penangkapan terhadap oknum Banser tersebut, bisa meluas ke daerah diluar Garut.

Aksi masa sudah turun kejalan di tiga daerah kemarin yaitu Bogor, Garut dan Solo. Aksi speerti ini ibarat virus yang cepat menular ke daerah lain di Indonesia dan bisa jadi ummat Islam global. Kalimat Tauhid Lâ Ilâha illalLâh Muhammad Rasûlullâh  adalah lintas bangsa dan negara, karena ditujukan kepada seluruh manusia yang ber-Iman.

Kapolri harus segera bertindak. Lakukan pemeriksaan secara adil, transparan, siapa  tersangkanya, apakah perbuatan oknum atau ada kebijakan organisasi. Apakah hanya salah pengertian. Apa ada misleading antara Pimpinan Banser dengan jajaran “pasukan” dibawahnya dalam tataran implementasi.

Perlakukan yang transparan, non-diskrimantif, berpegang pada fakta, dan aturan-aturan pelanggaran yang dilakukan harus cepat diungkapkan.

Kenapa harus cepat?. Sebab kita berhadapan dengan kejadian dibakarnya bendera bertuliskan kaligrafi Tauhid Lâ Ilâha illalLâh Muhammad Rasûlullâh  yang dilakukan oleh umat Islam itu sendiri. Ini sangat rawan. Potensi benturan antar ummat, akan mengakibatkan hancurnya Umat Islam itu sendiri.

Jika Tauhid telah runtuh di dalam diri Umat Islam maka itu identik dengan runtuhnya kita sebagai bangsa yang beridiologi Pancasila.

Karena Sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, dan alinea ketiga Pembukaan  UU Dasar 1945, yang meyatakan  “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”

Bagi elite-elite politik bangsa ini,  marilah kita tempatkan kepentingan Negara, keutuhan masyarakat, ketentraman beragama, terpeliharanya Tauhid umat, menjadi pekerjaan utama dalam dinamika politik  yang berlangsung saat ini.

Kepentingan sesaat, jangan dikalahkan dengan kepentingan jangka panjang baik dunia, terlebih-lebih dalam kehidupan di akhirat. Kehidupan panggung manusia sebagai panggung sandiwara kehidupan pada saatnya akan berakhir.

Demikian juga dengan kekuasaan juga akan berakhir. Hanya soal waktu. Yang berlaku permanen adalah panggung kehidupan akhirat  yang kita akan kekal selamanya. Jadi jangan sampai dalam panggung akhirat tersebut kita berada di bawah kolong panggung yang gelap gulita karena di dunia  dalam  melaksanakan tugas sebagai pemimpin  tidak amanah dan menzolimi hak Allah.

Kepada Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas,  kita berharap tidak cukup meminta maaf pada  seluruh masyarakat  atas kegaduhan yang dilakukan pasukan Bansernya,  tetapi yang  penting minta Ampun dan minta maaf pada Allah SWT, dan meminta maaf pada Nabi  Muhammad SAW,  yang merupakan kekasih Allah.

Permintaan ampun pada Allah SWT, menjadi penting, sebab jika Allah SWT murka dan diturunkannya “azab”nya, belum tentu hanya ke segelintir  orang  yang berdosa, tetapi juga akan bisa menimpa bangsa dan negara ini.

Semoga Allah SWT, mengampuni dosa-dosa kita. Amiin YRA.

Silahkan di share jika bermanfaat

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top