General Issue

“HEAD TO HEAD” GOES IPUL DENGAN KHOFIFAH

chazali s penulis buku

By : Dr. Chazali H.Situmorang. Apt, M.Sc/ Dosen Adm.Negara FISIP UNAS; Sekjen Kemensos 2007 – 2010

Hari ini, Minggu 15 Oktober 2017, Megawati Ketua Umum PDIP telah mengumumkan siapa calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur yang diusung PDIP. Saya termasuk yang mencermati dan mendengar  langsung di Radio El-Shinta karena sedang perjalanan menuju Cilegon, ada acara silaturrahmi dengan Alumni HMI FMIPA USU yang ada di Jakarta dan sekitarnya.

Kenapa kali ni saya begitu sangat menantikan pengumuman tersebut, karena Ibu Mega sudah mengatakan bahwa yang tahu persis siapa calon yang diusung PDIP “hanya saya” karena saya yang menandatanganinya langsung. Beberapa hari ini perkiraaan saya melihat perkembangan di Jawa Timur, sudah sangat santer Risma akan di usung PDIP sebagai calon Gubernur. Jika beliau yang maju, bertarung dengan Goes Ipul dan Khofifah, peluang Risma untuk menang akan besar, karena suara NU yang marupakan basis  di Jawa Timur akan terbelah,  apalagi jika PDIP menggaet wakilnya dari kalangan NU.  Jika Risma kalah, dan Goes Ipul atau Khofifah menang, PDIP tidak begitu kelhilangan karena Walikota Surabaya tetap dari PDIP ( Wakil Walikota   yang otomatis jadi Walikota dari PDIP).

Bagaimana dengan Risma. Jika kalah, karena beliau memang punya kompetensi tinggi di pemerintahan, mungkin saja akan diangkat Presiden Jokowi sebagai salah satu menteri di Kabinet Kerja.  Tetapi skenario ini tidak ditempuh PDIP boleh jadi (hanya Bu Mega dan Risma yang tahu) karena Risma tetap konsisten sebagai Walikota Surabaya memenuhi janjinya pada masyarakat Surabaya.

Sekarang sudah jelas, Goes Ipul  ( mantan Ketua HMI Cabang Jakarta, dan alumni FISIP UNAS) dan Abdullah Azwar Anas (AAA) , Ketua ISNU (Ikatan Sarjana NU)  didukung oleh PDIP, dan kedua figur ini diusung PKB. Sudah dapat diduga ini hasil loby-loby politik Muhaimin Iskandar Ketum PKB kepada Bu Megawati. Karena PKB merasakan mendapatkan rival yang berat yaitu Khofifah yang juga berbasis nahdliyin dan juga mendapat dukungan para kiyai NU.

Disamping itu, keputusan PDIP mendukung Goes Ipul dan AAA ( Abdullah Azwar Anas) tentu tidak lepas dari pengalaman pahit sewaktu mendukung Ahok sebagai calon Gubernur DKI.  Walaupun banyak penolakan dari kader PDIP di Jakarta, termasuk Ketua PDIP DKI Jakarta, Bu Mega tetap menetapkan Ahok sebagai calon Gubernur yang akhirnya kalah telak. Dan mengakibatkan komunikasi politik PDIP dengan sebagian ummat/ormas  Islam di Jakarta menjadi renggang bahkan terkesan memburuk.

Langkah politik PDIP di Jawa Timur sangat taktis, karena dapat merangkul kaum Nahdliyin bukan saja di Jawa Timur, tapi boleh jadi di propinsi lain dalam proses pencalonan kepala daerah. Dan pilihan ini dapat memperbaiki hubungan emosional Ummat/Ormas  Islam dengan PDIP, yang dulu pernah tersambung dengan baik sewaktu Pak Taufik Kiemas masih hidup ( ingat BMI yang berkibar masa TK tetapi mengendur di era meninggalnya TK). Pola yang sama juga terlihat diterapkan di Sulawesi Selatan walaupun mereka menyadari Sulsel bukan basis PDIP.

Bagaimana dengan Khofifah?. Sudah jelas Golkar dan Nasdem menggusung Khofifah dan juga beberapa partai lainnya. Jika Khofifah jadi maju ini adalah pertarungan ketiga kalinya. Suatu sikap perjuangan yang tangguh dari seorang wanita muslimat ( yang juga Nahdliyin)  yang cerdas, bersemangat , tentu membuat Goes Ipul berfikir keras dan akhirnya memerlukan dukungan teman sesama Nahdliyin yang energik, masih, muda , bupati populer dan sukses yaitu AAA sebagai calon Wakil Gubernur.

Dengan mencalonkan diri sebagai Calon Gebernur yang ketiga kalinya ini,  bagi Khofifah memang lebih berat karena harus meninggalkan jabatan sebagai Menteri Sosial, dan mencari calon Wakil Gubernur yang dapat meningkatkan elektabilitas Khofifah. Beberapa pengamat berpendapat, bahwa peluang Khofifah kali ini cukup besar, karena sebagai Menteri Sosial sudah banyak membantu masyarakat miskin dengan  berbagai paket program pengentasan kemiskinan di Jawa Timur, dan mendatangi pelosok-pelosok Jawa Timur (termasuk Madura dan daerah miskin lainnya). Dari kunjungan tersebut, Khofifah sudah banyak mendapat masukan dari masyarakat dan juga mungkin saja kelemahan-kelemahan pemerintahan masa Sukarwo – Ipul sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur. Tetapi sebagian lagi pengamat berpendapat bahwa  peluang Goes Ipul-AAA lebih besar, karena keduanya sudah selama 10 tahun menggeluti pemerintahan propinsi dan kabupaten. Disamping dukungan Nahdliyin ( yang akan terbelah), juga mesin birokrasi akan bekerja untuk Goes Ipul – AAA.

Bagaimana dengan isyu gender. Isyu ini bisa ibarat pisau bermata dua.  Kalau isyu ini berhasil diangkat Khofifah ( karena juga Ketua Muslimat NU), dapat menjadi sumber suara yang besar untuk Khofifah. Tetapi juga dapat sebagai penghambat karena tradisi NU yang belum memberi tempat terhadap pemimpin wanita. Mungkin saja kesadaran politik wanita NU sudah semakin tinggi dan menginginkan figur Gubenrur seorang wanita untuk memperbaiki nasib mereka yang sering tidak beruntung.

Dengan peta situasi seperti diatas,  kemungkinan yang terjadi adalah “head to head” kalaupun ada calon lain itu pengaruhnya tidak signifikan. Maka itu pemilihan Gubernur Jawa Timur akan mendapatkan perhatian nasional dan internasional, tidak beda dengan pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Masyarakat NU Jawa Timur mungkin akan mengatakan siapapun Gubernurnya, adalah Nahdliyin.

Tetapi satu hal yang mungkin perlu dipertimbangkan, dengan majunya Khofifah dan melepaskan jabatannya sebagai Mensos, maka penggantinya kemungkinan  bukan lagi dari NU atau PKB, tetapi bisa jadi akan diisi kader PDIP, karena PDIP telah mendukung NU/PKB untuk mencalonkan  Goes Ipul dan AAA sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur.

Bagi partai politik, Kementerian Sosial saat ini sangat strategis karena anggarannya  cukup besar.  Tahun depan sekitar hampir Rp. 40 triliun, dalam bentuk skhema bantuan sosial bagi orang miskin ( program PKH, UEP KUBE,  Rutilahu,  E-Waroeng, bantuan pangan non tunai, bantuan lansia, Pecandang cacat dan lainnya) yang potensial untuk dapat menarik suara pemilih pada Pemilu tahun 2019.    Itulah politik, karena politik itu menurut Alfan Alfian Dosen Politik Pascasarjana FISIP UNAS adalah terkait dengan kekuasaan.

Cibubur, 15 Oktober 2017

Silahkan share jika bermanfaat.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top