Jurnal

ANALISIS PERTUMBUHAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN DAN PENGANGGURAN DI KOTA MEDAN

149297_10201075707286645_1097506816_n

Oleh. WAHYU TRIONO KS

Sekolah Pascasarjana Ilmu Administrasi Publik Universitas Nasional

LATAR BELAKANG

Salah satu tujuan pembangunan secara makro adalah meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi berhubungan dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat dan dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi menyangkut perkembangan yang berdimensi tunggal dan diukur dengan peningkatan hasil produksi dan pendapatan.

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang penting dalam melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi yang terjadi pada suatu negara atau daerah. Pertumbuhan ekonomi akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu periode tertentu, karena pada dasarnya aktivitas perekonomian adalah suatu proses penggunaan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Proses ini akan menghasilkan suatu aliran balas jasa terhadap faktor produksi yang dimiliki masyarakat.

Dengan adanya pertumbuhan ekonomi maka diharapkan pendapatan masyarakat sebagai pemilik faktor produksi juga akan meningkat. Indikator yang digunakan untuk menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi adalah tingkat pertumbuhan produk nasional, seperti Produk Domestik Bruto (PDB) untuk tingkat nasional dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) untuk daerah provinsi dan kabupaten/kota (Susanti, 2000: 23)[1].

Kota Medan sebagai salah satu kota yang termasuk tiga kota besar di Indonesia dalam lima tahun belakangan terus memacu pertumbuhan ekonominya yang ditandai dengan terus meningkatnya pertumbuhan ekonomi di kota Medan dari tahun ke tahun. Perekonomian Kota Medan pada tahun 2014 mengalami peningkatan dibandingkan pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan PDRB Kota Medan tahun 2014 mencapai 6,05 persen, sedangkan tahun 2013 sebesar 5,36 persen. Hal ini disebabkan mayoritas lapangan usaha mengalami peningkatan pertumbuhan, yakni lapangan usaha Jasa Kesehatan dan lainnya, lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, lapangan usaha informasi dan komunikasi, lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor dan lapangan usaha Konstruksi.

Tetapi pertumbuhan ekonomi yang naik dari tahun ke tahun di Kota Medan tidak dibarengi dengan menurunnya angka pengangguran terbuka di kota Medan yang setiap tahun meningkat secara signifikan. Peningkatan angkatan kerja baru yang lebih besar dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia terus menunjukkan jurang yang terus membesar. Kondisi ini semakin membesar setelah krisis ekonomi global tahun 2008. Dengan adanya krisis ekonomi tidak saja jurang antara peningkatan angkatan kerja baru dengan penyediaan lapangan kerja yang rendah terus semakin dalam, tetapi juga terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini menyebabkan tingkat pengangguran di kota Medan dari tahun ke tahun meningkat.

Dari tahun ke tahun jumlah angkatan kerja di kota Medan mengalami peningkatan, menurut knowledge proyeksi di tahun 2012 sebesar 1.011.309, tahun 2013 sebesar 1.032.636, tahun 2014 sebesar 1.053.964, tahun 2015 sebesar 1.075.291. Dari tahun ke tahun jumlah penduduk umur kerja di kota Medan juga ikut mengalami peningkatan, menurut knowledge proyeksi tahun 2012 jumlah penduduk umur kerja di kota Medan sebesar 1.622.930, di tahun 2013 sebesar 1.660.271, di tahun 2014 sebesar 1.697.612, dan begitu juga di tahun 2015 penduduk umur kerja mengalami peningkatan yaitu sebesar 1.734.953.

Tingkat Pengangguran dan Pertumbuhan Ekonomi Kota Medan Tahun 2008-2014

No       Tahun              Pengangguran (%)        Pertumbuhan ekonomi (%)

1          2008                            13.08                           6.98

2          2009                            14.27                           6.55

3          2010                            13.11                           7.16

4          2011                            9.97                            7.09

5          2012                            9.03                             6.95

6          2013                            10.01                           6.76

7          2014                            9.48                             8.54

Sumber: Diolah dari BPS Kota Medan Tahun 2015

Meskipun kita akan menganalisis pertumbuhan ekonomi Kota Medan tahun 2012 sampai dengan tahun 2014, tetapi tampaknya tidak jauh berbeda dengan periode waktu tahun 2015 sampai dengan tahun 2017. Ini dapat kita lihat dari meningkatnya jumlah pengangguran di Kota Medan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara, dimana telah terjadi peningkatan jumlah pengangguran di Medan. Data tahun 2015 tercatat ada 108.243 pengangguran di Medan jumlah ini mengalami peningkatan dari 2014 berjumlah 92.437 (9,48%). Pada tahun 2017 jumlah pengangguran di Kota medan sudah mencapai 125 ribu orang.[2]

Kenyataan seperti ini menyisakan pertanyaan, mengapa pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat dari tahun ke tahun tidak diikuti oleh penurunan angka pengangguran, atau pengangguran justru meningkat setiap tahunnya. Padahal secara teori pertumbuhan ekonomi menurut pandangan para ekonom Klasik yang antara lain Adam Smith, David Ricardo, Thomas Robert Malthus dan John Stuart Mill, maupun ekonom Neo-Klasik antara lain Robert Solow dan Trevor Swan, pada dasarnya ada empat faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu (a) jumlah penduduk, (b) jumlah stok barang modal, (c) luas tanah dan kekayaan alam, dan (d) tingkat teknologi yang digunakan (Sukirno, 1985: 273).[3]

Salah satu unsur yang penting dan menjadi faktor positif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan penduduk dan tenaga kerja. Jumlah tenaga kerja yang lebih besar berarti akan menambah jumlah tenaga produktif, sedangkan pertumbuhan penduduk yang lebih besar akan meningkatkan luasnya pasar domestik. Namun kenyataan yang terjadi pertumbuhan penduduk yang sangat cepat juga akan memberikan efek negatif terhadap perkembangan ekonomi, sehingga diperlukan sistem perekonomian yang mampu untuk menyerap dan secara produktif mempekerjakan tambahan tenaga tersebut. (Todaro, 2004: 322).[4]

Hal-hal semacam inilah yang mestinya menjadi fokus perhatian bagi pemerintah Kota Medan dan para pengambil kebijakan, karena bila masalah pengangguran ini tidak ditangani dengan baik maka akan memberi dampak bagi sendi-sendi kehidupan masyarakat dengan maraknya kejahatan dan kriminalitas, menjadi beban sosial bagi pemerintah daerah dan masih banyak dampak-dampak ikutan lainnya yang mempengaruhi semua sendi kehidupan masyarakat.

Teori Pertumbuhan Ekonomi

Untuk kepentingan melakukan analisis tahap-tahap pertumbuhan ekonomi di Kota Medan, maka teori pertumbuhan ekonomi Walt Whitman Rostow akan kita jadikan sebagai alat analisis.

Teori pembangunan ekonomi versi Rostow ini sangat populer dan paling banyak mendapat kritikan dari para ahli. Teori ini pada mulanya merupakan artikel Rostow yang dimuat dalam Economics Journal (Maret 1956). Walt Whitman Rostow kemudian membukukan ide tersebut dengan judul: The Stages of Economic Growth: A Non Communist Manifesto yang diterbitkan pada tahun 1960. Ia meluncurkan teorinya sebagai ‘sebuah manifesto anti komunis’ sebagaimana tertulis dalam bentuk subjudul. Rostow menjadikan teorinya sebagai alternatif bagi teori Karl Marx mengenai sejarah modern. Buku itu kemudian mengalami pengembangan dan variasi pada tahun 1978 dan 1980.

Rostow pulalah yang membuat distingsi antara sektor tradisional dan sektor kapitalis modern. Frasa-frasa ini terkenal dengan terminologi ‘less developed’, untuk menyebut kondisi suatu negara yang masih mengandalkan sektor tradisional, dan terminologi ’more developed’ untuk menyebut kondisi suatu negara yang sudah mencapai tahap industrialisasi dengan mengandalkan sektor kapitalis modern.

Dalam hal prakondisi untuk meningkatkan ekonomi suatu negara, penekanannya terdapat pada keseluruhan proses di mana masyarakat berkembang dari suatu tahap ke tahap yang lain. Tahap-tahap yang berbeda ini ditujukan untuk mengidentifikasi variabel-variabel kritis atau strategis yang dianggap mengangkat kondisi-kondisi yang cukup dan perlu untuk perubahan dan transisi menuju tahapan baru yang berkualitas. Teori ini secara mendasar bersifat unilinear dan universal, serta dianggap bersifat permanen.

Pembangunan, dalam arti proses, diartikan sebagai modernisasi yakni pergerakan dari masyarakat pertanian berbudaya tradisional ke arah ekonomi yang berfokus pada rasional, industri, dan jasa. Untuk menekankan sifat alami ‘pembangunan’ sebagai sebuah proses, Rostow menggunakan analogi dari sebuah pesawat terbang yang bergerak sepanjang lintasan terbang hingga pesawat itu dapat lepas landas dan kemudian melayang di angkasa.

Pembangunan, dalam arti tujuan, dianggap sebagai kondisi suatu negara yang ditandai dengan adanya: a) kemampuan konsumsi yang besar pada sebagian besar masyarakat, b) sebagian besar non-pertanian, dan c) sangat berbasis perkotaan. Sebagai bagian teori modernisasi, teori ini mengkonsepsikan pembangunan sebagai modernisasi yang dicapai dengan mengikuti model kesuksesan Barat. Para pakar ekonomi menganggap bahwa teori tahap-tahap pertumbuhan ekonomi ini merupakan contoh terbaik dari apa yang diistilahkan sebagai ‘teori modernisasi’.

Tahap-tahap pertumbuhan ekonomi yang linear (mono economic approach) inilah yang menjadi syarat pembangunan untuk mencapai ‘status lebih maju’. Rostow membagi proses pembangunan ke dalam lima tahapan yaitu: Pertama, Tahap masyarakat tradisional (the traditional society), dengan karakteristiknya: a) Pertanian padat tenaga kerja; b) Belum mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi (era Newton); c) Ekonomi mata pencaharian; d) Hasil-hasil tidak disimpan atau diperdagangkan; dan e) Adanya sistem barter.

Kedua, Tahap pembentukan prasyarat tinggal landas (the preconditions for take off), yang ditandai dengan: a) Pendirian industri-industri pertambangan; b) Peningkatan penggunaan modal dalam pertanian; c) Perlunya pendanaan asing; d) Tabungan dan investasi meningkat; e) Terdapat lembaga dan organisasi tingkat nasi-onal; f) Adanya elit-elit baru; g) Perubahan seringkali dipicu oleh gangguan dari luar.

Ketiga, Tahap tinggal landas (the take-off), yaitu ditandai dengan: a) Industrialisasi meningkat; b) Tabungan dan investasi semakin meningkat; c) Peningkatan pertumbuhan regional; a) Tenaga kerja di sektor pertanian menurun; b) Stimulus ekonomi berupa revolusi politik, b) Inovasi teknologi, c) Perubahan ekonomi internasional, d)  Laju investasi dan tabungan meningkat 5 – 10 persen dari e) Pendapatan nasional, f) Sektor usaha pengolahan (manufaktur), g) Pengaturan kelembagaan (misalnya sistem perbankan).

Keempat, Tahap pergerakan menuju kematangan ekonomi (the drive to maturity), ciricirinya: a) Pertumbuhan ekonomi berkelanjutan; b) Diversifikasi industri; c) Penggunaan teknologi secara meluas; d) Pembangunan di sektor-sektor baru; e) Investasi dan tabungan meningkat 10 – 20 persen dari pendapatan nasional.

Kelima, Tahap era konsumsi massal tingkat tinggi (the age of high mass-consumption) dengan: a) Proporsi ketenagakerjaan yang tinggi di bidang jasa; b) Meluasnya konsumsi atas barang-barang yang tahan lama dan jasa; c) Peningkatan atas belanja jasa-jasa kemakmuran.

Kemudian untuk menganalisis hubungan pertumbuhan ekonomi, laju pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja serta pengangguran dipergunakan teori pertumbuhan ekonomi klasik yang diwakili oleh Adam Smith (1723-1790).

Menurut Smith pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu pertumbuhan output (GDP) total dan pertumbuhan penduduk. Faktor output memberikan peranan yang pasif, yang mana jumlah penduduk akan menyesuaikan dengan tenaga kerja. Unsur pokok dari sistem produksi suatu negara ada tiga: Pertma, sumber daya alam tersedia, merupakan wadah paling mendasar dari kegiatan produksi suatu masyarakat. Sumberdaya alam yang tersedia memiliki batas maksimum bagi pertumbuhan suatu perekonomian terutama jika digunakan secara maksimal. Kedua, Sumber daya manusia memegang peranan yang pasif dalam proses pertumbuhan output, Smith memandang tenaga kerja sebagai salah satu input dalam proses produksi dan pembagian kerja (division of labor) dan spesialisasi merupakan salah satu faktor kunci bagi peningkatan produktivitas tenaga kerja. Ketiga, Akumulasi modal yang dimiliki, stok modal memegang peranan paling penting dalam pembangunan ekonomi. Peranan stok modal sangat sentral dalam proses pertumbuhan output.

David Ricardo (1772-1823), mengungkapkan pandangan mengenai pembangunan ekonomi dengan cara sistematis dalam bukunya “The Principles Of Political Economy and Taxation” (1917) yang mengungkapkan bahwa faktor yang penting dalam pertumbuhan ekonomi adalah buruh, pemupukan modal, dan perdagangan luar negeri. Teori Ricardian menekankan pentingnya tabungan bagi pembangunan modal. Di banding pajak, Ricardo lebih menyetujui pemupukkan modal melalui tabungan.

 Thomas Robert Malthus (1766-1834) Menurut Thomas Robert Malthus, perkembangan perekonomian suatu negara ditentukan oleh pertambahan jumlah penduduk. Karena dengan bertambahnya jumlah penduduk secara otomatis jumlah permintaan terhadap barang dan jasa akan bertambah. Selain itu, perkembangan ekonomi suatu negara juga memerlukan kenaikan jumlah kapital untuk investasi yang terus menerus.

John Stuart Mill (1806-1873). John Stuart Mill merupakan salah satu tokoh yang menganut sistem kebebasan. Beliau berpendapat bahwa masalah perekonomian merupakan masalah sosial. Selain itu beliau juga mengemukakan tentang bagaimana manusia memenuhi kebutuhannya dan ikut serta dalam kemakmuran negaranya dengan berbagai cara seperti meningkatkan produksi, mencintai produk negeri sendiri serta masalah distribusi barang dan jasa.

Teori Neo-Klasik dimotori oleh Robert Solow dan Trevor Swan. Menurut teori ini, pertumbuhan ekonomi tergantung kepada pertambahan penyediaan faktor-faktor produksi dan tingkat kemajuan teknologi. Berdasarkan penelitiannya, Solow (1957) mengatakan bahwa peran dari kemajuan teknologi di dalam pertumbuhan ekonomi sangat tinggi. Pandangan teori ini didasarkan kepada anggapan yang mendasari analisis klasik, yaitu perekonomian akan tetap mengalami tingkat pengerjaan penuh (full employment) dan kapasitas peralatan modal akan tetap sepenuhnya digunakan sepanjang waktu. Dengan kata lain, sampai dimana perekonomian akan berkembang tergantung pada pertambahan penduduk, akumulasi kapital, dan kemajuan teknologi.

Teori ini berkembang berdasarkan analisis-analisis mengenai pertumbuhan ekonomi menurut pandangan ekonomi klasik. Menurut teori ini, pertumbuhan ekonomi tergantung pada pertambahan penyediaan faktor-faktor produksi (penduduk, tenaga kerja, dan akumulasi modal dan tingkat kemajuan teknologi. Menurut teori ini, rasio modal output (COR) bisa berubah. Dengan kata lain, untuk menciptakan sejumlah output tertentu, bisa digunakan jumlah modal yang berbeda-beda dengan bantuan tenaga kerja yang jumlahnya berbeda-beda pula, sesuai dengan yang dibutuhkan. Jika lebih banyak modal yang digunakan, maka lebih banyak tenaga kerja yang digunakan.

Analisis Pertumbuhan Ekonomi dan Ketenagakerjaan Kota Medan

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Medan diperoleh data tentang pertumbuhan ekonomi Kota Medan persektor lapangan usaha utama dan ketenagakerjaan.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tertinggi adalah dari sektor Perdagangan Besar, Rumah Makan dan Jasa Akomodasi/Wholesale Trade Restaurants and Acomodations Services. Pada tahun 2012 menyumbang sebesar 31.360,9 Milyar (26,81%), yang dihasilkan oleh 330.345 orang tenaga kerja (38,79). Tahun 2013 menyumbang sebesar 36.433,8 Milyar (27,901%) yang dihasilkan oleh 334.514 orang tenaga kerja (36,99). Tahun 2014 menyumbang sebesar 40.784,7 Milyar (28,7%) yang dihasilkan oleh 332.916 orang tenaga kerja (37,72%).

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tertinggi kedua adalah dari sektor Lembaga Keuangan, Usaha Persewaan Bangunan dan Jasa Perusahaan/Financing, Real Estate and Business Services. Pada tahun 2012 menyumbang sebesar 23.303,65 Milyar (19,95%), yang dihasilkan oleh 46.252 orang tenaga kerja (5,43%). Tahun 2013 menyumbang sebesar 26.383,0 Milyar (20,204%) yang dihasilkan oleh 71.032 orang tenaga kerja (7,855%). Tahun 2014 menyumbang sebesar 25.608,26 Milyar (18,019%) yang dihasilkan oleh 55.245 orang tenaga kerja (6,2599%).

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tertinggi ketiga adalah dari sektor Konstruksi/Construction. Pada tahun 2012 menyumbang sebesar 23.229,96 Milyar (19,86%), yang dihasilkan oleh 48318 orang tenaga kerja (5,67%). Tahun 2013 menyumbang sebesar 26.884,31 Milyar (20,588%) yang dihasilkan oleh 57.127 orang tenaga kerja (6,317%). Tahun 2014 menyumbang sebesar 30.608,29 Milyar (21,538%) yang dihasilkan oleh 43.371 orang tenaga kerja (4,9144%).

Sektor lainnya yang memberi sumbangan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) secara lengkap dapat dilihat pada tabel berikut:

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Ketenagakerjaan Kota Medan 2012-2014

Picture2

Data Diolah Dari BPS Kota Medan

Bila dilihat dari data maka pertumbuhan ekonomi Kota Medan mengandalkan tiga sektor andalan yaitu: Perdagangan Besar, Rumah Makan dan Jasa komodasi/ Wholesale Trade Restaurants and Acomodations Services. Kedua, Lembaga Keuangan, Usaha Persewaan Bangunan dan Jasa Perusahaan/Financing, Real Estate and Business Services. Ketiga, Konstruksi/Construction.

Jika mengikuti teori pertumbuhan ekonomi Walt Whitman Rostow maka Kota Medan berada pada tahap  tinggal landas (the take-off), menuju Tahap pergerakan menuju kematangan ekonomi (the drive to maturity), dan Tahap era konsumsi massal tingkat tinggi (the age of high mass-consumption). Dengan demikian dapat diketahui bahwa terjadi proses pengurangan tenaga kerja, atau penyerapan tenaga kerja tidak sebanding dengan laju pertumbuhan angkatan kerja yang tinggi di Kota Medan, karena sektor andalan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi ini setiap tahun terjadi penurunan angka tenaga kerja yang berkontribusi di sektor tersebut.

Sebagaimana data BPS Kota Medan, diketahui bahwa struktur lapangan usaha sebagaimana masyarakat Kota Medan semakin bergeser dari lapangan usaha industri ke lapangan usaha ekonomi lainnya yang terlihat dari besarnya peranan masing-masing lapangan usaha ini terhadap PDRB Kota Medan. Sumbangan terbesar pada tahun 2014 dihasilkan oleh lapangan usaha Perdagangan, Konstruksi, dan industri, Real estate, kemudian lapangan usaha Jasa Keuangan, Transportasi dan Pergudangan, dan Informasi dan komunikasi.

Dengan demikian, teori menurut pandangan para ekonom Klasik yang antara lain Adam Smith, David Ricardo, Thomas Robert Malthus dan John Stuart Mill, maupun ekonom Neo-Klasik antara lain Robert Solow dan Trevor Swan, pada dasarnya ada empat faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu (a) jumlah penduduk, (b) jumlah stok barang modal, (c) luas tanah dan kekayaan alam, dan (d) tingkat teknologi yang digunakan dan Menurut Todaro bahwa salah satu unsur yang penting dan menjadi faktor positif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan penduduk dan tenaga kerja berbanding terbalik dengan pertumbuhan ekonomi di Kota Medan karena justru pertumbuhan ekonominya mengarah pada penurunan daya serap tenaga kerja, ini disebabkan oleh fokus pertumbuhan ekonomi yang padat modal tersebut tidak merupakan lapangan usaha yang padat karya dan menyerap tenaga kerja yang banyak.

Hal ini sejalan dengan pandangan Adam Smith bahwa jumlah penduduk yang besar dalam perekonomian dapat menjadi pendorong maupun penghambat pembangunan. Pandangan optimis tentang peran pertambahan penduduk terhadap pembangunan ekonomi, salah satunya dikemukakan oleh Adam Smith (1729–1790), pelopor aliran ekonomi klasik. Menurut Smith, dilihat dari sisi permintaan, pertambahan penduduk akan memperluas pasar. Jika pasar berkembang, akan terjadi pembagian kerja dan spesialisasi produksi. Hal ini akan mendorong kegiatan inovasi, pengembangan teknologi, dan peningkatan produktivitas tenaga kerja. Sebagai hasilnya, produksi akan naik dan terjadi surplus. Selanjutnya, surplus tersebut dipergunakan untuk memperluas investasi, baik untuk memperbarui atau menambah barang modal maupun untuk pengembangan teknologi produksi.

Menurut Todaro (2003) pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan Angkatan Kerja (AK) secara tradisional dianggap sebagai salah satu faktor positif yang memacu pertumbuhan ekonomi. Jumlah tenaga kerja yang lebih besar berarti akan menambah tingkat produksi, sedangkan pertumbuhan penduduk yang lebih besar berarti ukuran pasar domestiknya lebih besar.

Meski demikian hal tersebut masih dipertanyakan apakah benar laju pertumbuhan penduduk yang cepat benar-benar akan memberikan dampak positif atau negatif dari pembangunan ekonominya. Selanjutnya dikatakan bahwa pengaruh positif atau negatif dari pertumbuhan penduduk tergantung pada kemampuan sistem perekonomian daerah tersebut dalam menyerap dan secara produktif memanfaatkan pertambahan tenaga kerja tersebut. Kemampuan tersebut dipengaruhi oleh tingkat dan jenis akumulasi modal dan tersedianya input dan faktor penunjang seperti kecakapan manajerial dan administrasi.

Dari data pertumbuhan ekonomi, peningkatan laju pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja di Kota Medan dapat diketahui bahwa jumlah penduduk yang bertambah tiap tahunnya ternyata memiliki hubungan searah dengan jumlah pengangguran. Dengan bertambahnya jumlah penduduk akan mengakibatkan bertambahnya jumlah pengangguran. Hal ini mengindikasikan hubungan positif dan kuat antara jumlah penduduk dan jumlah pengangguran. Kenaikan jumlah penduduk akan mengakibatkan lonjakan angkatan kerja. Akan tetapi terbatasnya dan sempitnya lapangan pekerjaan, para angkatan kerja tersebut tidak akan terserap sepenuhnya, bahkan tidak terserap dalam jumlah yang banyak. Akibatnya pengangguran pun meningkat, hal ini sejalan dengan pendapat kaum klasik sebagaimana telah kita uraikan di atas yang mengaitkan antara pendapatan perkapita dan jumlah penduduk. Teori tersebut dinamakan teori penduduk optimum. Teori ini menjelaskan apabila kekurangan penduduk, produksi marginal adalah lebih tinggi daripada pendapatan perkapita. Akibatnya pertambahan penduduk akan menaikkan pendapatan perkapita.

Di sisi lain, apabila penduduk sudah terlalu banyak, hukum hasil tambahan yang semakin berkurang akan mempengaruhi fungsi produksi, maka produksi marjinal akan mulai mengalami penurunan. Berdasarkan hal tersebut, pendapatan nasional dan pendapatan per kapita menjadi semakin lambat pertumbuhannya, hal ini berdampak secara tidak langsung terhadap tingkat pengangguran.

Begitu juga dengan hubungan pertumbuhan ekonomi dengan tingkat pengangguran. Setiap adanya peningkatan terhadap persentase pertumbuhan ekonomi diharapkan akan menyerap tenaga kerja. Tetapi berdasarkan data yang telah kita sajikan menunjukan hasil yang berbeda, hubungan pertumbuhan ekonomi dan pengangguran bersifat positif dan negatif. Pertumbuhan ekonomi yang bersifat positif dikarenakan pertumbuhan ekonomi tidak dibarengi oleh peningkatan kapasitas produksi, sehingga pengangguran tetap meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi.  Pertumbuhan ekonomi yang meningkat ini berorientasi pada padat modal, dimana kegiatan produksi untuk memacu output dan menghasilkan pendapatan yang meningkat lebih diutamakan ketimbang pertumbuhan ekonomi yang berorientasi pada padat karya.

Kesimpulan

Bila dilihat dari data pertumbuhan ekonomi Kota Medan dari PDRB Kota Medan dari tahun 2012-2014 dapat diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi kota medan meningkat setiap tahunnya Perekonomian Kota Medan pada tahun 2014 mengalami peningkatan dibandingkan pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan PDRB Kota Medan tahun 2014 mencapai 6,05 persen, sedangkan tahun 2013 sebesar 5,36 persen. Hal ini disebabkan mayoritas lapangan usaha mengalami peningkatan pertumbuhan, yakni lapangan usaha Jasa Kesehatan dan lainnya, lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, lapangan usaha informasi dan komunikasi, lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor dan lapangan usaha Konstruksi.

Tetapi pertumbuhan ekonomi yang naik dari tahun ke tahun di Kota Medan tidak dibarengi dengan menurunnya angka pengangguran terbuka di kota Medan yang setiap tahun meningkat secara signifikan. Peningkatan angkatan kerja baru yang lebih besar dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia terus menunjukkan jurang yang terus membesar. Kondisi ini semakin membesar setelah krisis ekonomi global tahun 2008. Dengan adanya krisis ekonomi tidak saja jurang antara peningkatan angkatan kerja baru dengan penyediaan lapangan kerja yang rendah terus semakin dalam, tetapi juga terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini menyebabkan tingkat pengangguran di kota Medan dari tahun ke tahun meningkat.

Dari tahun ke tahun jumlah angkatan kerja di kota Medan mengalami peningkatan, menurut knowledge proyeksi di tahun 2012 sebesar 1.011.309, tahun 2013 sebesar 1.032.636, tahun 2014 sebesar 1.053.964, tahun 2015 sebesar 1.075.291. Dari tahun ke tahun jumlah penduduk umur kerja di kota Medan juga ikut mengalami peningkatan, menurut knowledge proyeksi tahun 2012 jumlah penduduk umur kerja di kota Medan sebesar 1.622.930, di tahun 2013 sebesar 1.660.271, di tahun 2014 sebesar 1.697.612, dan begitu juga di tahun 2015 penduduk umur kerja mengalami peningkatan yaitu sebesar 1.734.953.

Dari data yang disajikan berkaitan dengan PDRB Kota Medan dikaitkan dengan Ketengakerjaan dapat pula disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi kota Medan memasuki tahap mengikuti teori pertumbuhan ekonomi Walt Whitman Rostow berada pada tahap  tinggal landas (the take-off), menuju Tahap pergerakan menuju kematangan ekonomi (the drive to maturity), dan Tahap era konsumsi massal tingkat tinggi (the age of high massconsumption). Dengan demikian dapat diketahui bahwa terjadi proses pengurangan tenaga kerja, atau penyerapan tenaga kerja tidak sebanding dengan laju pertumbuhan angkatan kerja yang tinggi di Kota Medan, karena sektor andalan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi ini setiap tahun terjadi penurunan angka tenaga kerja yang berkontribusi di sektor tersebut.

Sektor yang menjadi andalan pertumbuhan ekonomi Kota Medan bila dilihat dari data adalah pada tiga sektor andalan yaitu: Pertama, Perdagangan Besar, Rumah Makan dan Jasa komodasi/Wholesale Trade Restaurants and Acomodations Services. Kedua, Lembaga Keuangan, Usaha Persewaan Bangunan dan Jasa Perusahaan/Financing, Real Estate and Business Services. Ketiga, Konstruksi/Construction. Hal ini berkontribusi terhadap naiknya angka pengangguran di Kota Medan.

Catatan:

[1] Susanti, H., Moh.Iksan dan Widyanti, 2000, Indikator-indikator Makro Ekonomi, Edisi Kedua, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

[2] http://waspada.co.id/medan/125-ribu-pengangguran-di-kota-medan/

[3] Sukirno, Sadono, 1985, Ekonomi Pembangunan, Proses, Masalah dan Dasar Kebijaksanaan, LPFE, UI, Jakarta.

[4] Todaro, Michael, 2000, Pembangunan Ekonomi Di Dunia Ketiga, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Daftar Pustaka

Susanti, H., Moh.Iksan dan Widyanti, 2000, Indikator-indikator Makro Ekonomi, Edisi Kedua, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

http://waspada.co.id/medan/125-ribu-pengangguran-di-kota-medan/

Sukirno, Sadono, 1985, Ekonomi Pembangunan, Proses, Masalah dan Dasar Kebijaksanaan, LPFE, UI, Jakarta.

Todaro, Michael, 2000, Pembangunan Ekonomi Di Dunia Ketiga, Ghalia Indonesia, Jakarta.

BPS Kota Medan, Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Kota Medan 2010 – 2014, (BPS, 2014).

BPS Kota Medan, Kota Medan Dalam Angka 2013, (BPS Kota Medan, 2013).

BPS Kota Medan, Kota Medan Dalam Angka 2014, (BPS Kota Medan, 2014).

BPS Kota Medan, Kota Medan Dalam Angka 2014, (BPS Kota Medan, 2015).

Siahaan, Santi R., Puba, Elvis F., Simangunsong Ridhon MB., Pengantar Ekonomi Pembangunan, (Universitas HKBP Nomensen, 2001).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top